Friday, 13 April 2012

Mentari pada Bumi

0 comments

Siang panas makin memanas karena harap-harap cemas.
Cemas, galau, deg-degan, apa aja deh menunggu giliran eksekusi.
Sang eksekutor tak lain dosen kami, Pak Sukasdi.
Jika kau terbiasa bepikir sebelum melangkah.
Khusus di ruangan ini sebaiknya kau berpikir seribu kali sebelum bertitah. (baca: berbicara)
Mungkin Pak Sukasdi masa mudanya bercita-cita jadi editor namun tak kesampaian.
Akhirnya tiap perkataan kamilah yang jadi bahan suntingan beliau.
Semoga saja tulisan ini tidak pernah dibaca  beliau, karena pasti banyak susunan kata yang mengkudeta EYD.

"Iya, Mas di belakang yang pakai baju telur asin"

Wad Dafuuuuuu.... Telor asin.
Kayaknya tidak ada yang memakai baju biru muda selain aku.
Sial, pasti kebagian kena pertanyaan ini.

"Apa perbedaan 'mencinta' dengan 'mencintai'?"

Asian level! Hanya beda "i" tapi kalau yang menanyakan Pak Sukasdi ada aura tekanan akademis penuh misteri.
Beliau mempertanyakan "i" mungkin karena nama beliau SUKASDI = Suka Sekali Dengan I. #Jelas itu ngarang doang
Sekenanya saja kujawab "mencinta" adalah suatu kata kerja diawali imbuhan "me-" yang merupakan pembentuk kata kerja aktif untuk menyatakan kegiatan cinta (aktif) tanpa butuh objek, secara sederhana diartikan melakukan cinta.
Sedangkan "mencintai" adalah suatu evolusi dari kata "mencinta" yang kini telah menemukan pasangannya sehingga kini ada objek untuk diberi cinta itu sendiri, secara sederhana diartikan memberikan cinta kepada titik-titik.
Abstrak? Iya, Aku pun sebenarnya bingung dengan yang aku omongkan. Problem?

"Mas, bedanya kan cuma di huruf "i". Kenapa panjang-panjang jawabnya?"

Ketika kita panjang lebar menjelaskan namun dosen memberikan jawaban yang anak sd pun tahu itu, serasa naik paus akrobatik kemudian meluncur ke langit. Pas sampai langit ada burung garuda ditunggangi pangeran, sang pangeran bertarung dengan monster naga. Paus pun jadi penonton setia sinetron laga di Indo*si*ar itu. #Ah maaf ngelantur, kadang nonton juga sih

"Bahasa yang Mas gunakan untuk menerangkan perbedaan dua kata itu adalah bahasa kamus."
"Coba gunakan bahasa sastra untuk menerangkan perbedaannya!"

Karena waktu kuliah sudah habis, akhirnya pertanyaan itu dijadikan tugas untukku.
Meniru gaya pemain bola setelah berhasil cetak gol, aku  langsung buka baju kuliah.
Sementara di dalamnya ada kaos putih polos denga tulisan  "Why always me!".
Bukan selebrasi bahagia, tapi protes kenapa aku dibrondong rentetan pertanyaan seperti itu coba.
Untuk menuangkan ke dalam bahasa satra itu tak semudah membalik kartu UNO waktu main di Sevel.
Perlu perasaan tersendiri yang tercurahkan saat kita pernah atau sedang mengalami peristiwa itu.

Di antara ribuan kata di kamus kenapa harus kata dasar itu? C.I.N.T.A
Sebagai manusia usia tanggung, dewasa belum tapi juga nggak bisa lagi disebut remaja.
Pertama kali yang terlintas di alam bawah sadar tiap dengar kata C.I.N.T.A  pastilah cinta dengan lawan jenis.
Cinta antara laki-laki dengan perempuan. Walaupun saat awal-awal masuk kampus sempat dibuat horor dengan banyaknya isu cinta sejenis. Sstt.. Cukup untuk konsumsi internal.
Jangan sampai nyebar lagi gurauan bahwa 50% Mahasiswa di sini Maho, sisanya?? Pasangannya!! @#$$%$#

Ada teman yang menyarankan untuk nonton film-film drama korea.
Supaya nanti bisa dapat feel membuat tulisan bahasa satra tentang C.I.N.T.A. Boleh juga tuh ide dia.
Wow, si teman yang kena sindrom Koreanefelter akut ini punya koleksi lengkap berbagai pernak-pernik korea.
Film koreanya saja hardisk satu terra tak muat. Padahal wajah tulen Jawa, tapi kok ya fanatik banget Korea.
Biarlah krisis identitas itu masalah dia yang penting sekarang udah dapat beberapa film rekomendasi.

Memang secara kualitas drama Korea jauh lebih baik dibanding tayangan shi*netron di tanah air.
Pada drama Korea karakter tokoh tidak monoton dan susah ditebak. Tidak 100% protagonis atau pun antagonis.
Tokoh protagonis bukannya tanpa cela namun juga diekspose sisi negatif juga.
Semisal biasanya mereka tengil, emosional, labil, namun sebenarnya bisa bersikap hangat  dan peduli.
Beda dengan shi*netron tanah air, seorang tokoh protagonis pasti selalu digambarkan terlalu baik.
Bahkan saking baiknya berkali-kali dijahati tokoh antagonis tetap saja bersikap iklas dan memberikan senyuman maaf, tanpa pernah melakukan perlawanan berarti. Sisi negatif yang manusiawi tidak pernah diekspose, seorang tokoh hanya digambarkan pada dua kondisi ekstrim, kalau tidak malaikat ya setan.
Itu baru dari segi penokohan. Dari segi alur shi*netron kita kalah telak dalam hal kreatifitas.
Mungkin karena hanya mengejar rating hingga alurnya makin dipanjang-panjangin.
Tidak sesuai proporsi awal, masak sampai cucu cicit dari tokoh utama diceritakan juga.
Mulai deh melenceng lagi. Malah sekarang sok jadi jadi kritikus film.

Secara pribadi aku akui memang film drama Korea pandai dalam memainkan emosi penonton.
Kenapa?? Karena kita dibuai dalam berbagai kisah yang mungkin sulit kita temui di kehidupan nyata pribadi kita.
Jadi, bangun oi itu film. Jangan baui hidupmu dengan khayalan dari cerita. Kita hidup dalam dunia realita.Berkhayal dan bercita-cita itu beda jauh lho. 
Berharap itu harus, namun tetap pada harapan yang bisa langsung kita ambil aksi untuk wujudkan dalam kehidupan nyata. Bukan hanya harapan yang membuat kita menunggu tanpa kejelasan dan tanpa bisa berbuat apa pun.

Untuk membuat tulisan tentang C.I.N.T.A, tugas dari Pak Sukasdi, aku butuh sesuatu yang lebih nyata.
Sesuatu yang bisa kurasakan langsung. Bukan cuma angan-angan melankolik semata.
Ah tapi bagaimana cara lain supaya lebih mengerti?
Lagian juga minim pengalaman tentang masalah begituan.
Ah di masa penuh tekanan ini aku butuh keluargaku, terutama Ibuku.
Ibu selalu ada sebagai tempatku berbagi.
Ibu tak perlah lelah peduli padaku, mendukungku, dan memberikan nasihat-nasihat juga.
Tiada cinta setulus cinta Ibu. Eh tungu-tunggu, barusan kita ngomongin tentang C.I.N.T.A kan??
Wow ini dia yang aku cari, realita cinta yang murni.
Aku bisa belajar dari cara Ibu mencintaiku yang kemudian kugunakan untuk mencinta (tanpa "i" artinya belum ada objek). Yeah, perlahan tapi pasti  belajar dan belajar. Belajar mencinta setulus Ibu.  


                                                                                                                     14 Februari 2011
                                                              Tugas Bahasa Indonesia
Nama    : Ksatria Berbaju Telor Asin
Kelas     : Bulu
No. Urut : 01 

---------------------
Mentari pada bumi-------
Tiada rumus  terima-beri--
Petang terang silih berganti------------
Sinar itu senatiasa cairkan beku hati--
Hujan reda mendistorsi sinar pelangi--
Seputih terurai warna-warni-----------
Orbit Πr2 tak bersudut mati--
Mentari pada bumi----------
----------------------

Leave a Reply

Labels

 
The Ledger © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here