Dari perawakannya, beliau nampak sebagai lelaki berumur 55 tahun lebih.
Namun kalau melihat semangat dan keceriaannya, tak kalah deh sama mahasiswanya.
Dosen Akuntansi Pemerintahan ini tak suka bila disebut sedang memberikan kuliah.
"Sekarang ini bukan kuliah, tapi silaturrahmi", ujar beliau pada sesi tatap muka pertama. Menurut beliau silaturrahmi itu bisa memperpanjang umur. Akhirnya ketua kelaslah yang mendapat tugas mengingatkan agenda silaturrahmi pak dosen ini setiap akhir pekan. (-.-')a
Karena menurut beliau akuntansi itu mudah, debit-kredit doang, maka beliau lebih suka membagi pengalamannya dibanding membahas buku. Dulu beliau kuliah di suatu kampus di daerah Bintaro. Sudah menjadi rahasia umum bila di kampus itu rasio wanita dibanding prianya sangat timpang. Persaingannya ketat bila ditilik dari statistik. Tapi bukan karena itu beliau memilih untuk mencari calon dari kampus lain.
Kata beliau, "Anak akuntansi selalu berhitung laba-rugi." Oleh karena itu pak dosen muda tidak mencoba cari dari kampus sendiri. Yah kayaknya alasan beliau doang untuk ngeles nggak laku di kandang sendiri. Ternyata beliau menaruh hati pada gadis jurusan sastra kampus sebelah.
Andai jaman dulu ada twitter, pasti twit line dosen muda ini dipenuhi twit-twit galau. Nggak bisa bayangin pak dosen yang rambutnya disemir alami warna putih ini nulis :
"Andai kamu pendapatan, aku rela jadi beban. Agar tiap periode kita selalu disandingkan #NoMention"
"Pencatatan jurnal itu menggunakan double entry. Aku berharap namaku dan namamu yang mengisi jurnal-jurnal cinta itu #NoMention", ....dst.
Nggak usah dibayangin lagi deh. Dulu adanya surat menyurat, ngak lucu jugakan nulis surat untuk #NoMention. Terus bagaimana pak pos mau ngirim suratnya?
Setelah mengumpulkan segenap keberanian pak dosen muda memutuskan untuk menyatakan perasaannya. Kertas warna merah muda dibeli. Kentara banget kalau kebanyakan nonton film, termakan sugesti warna pink itu warna cinta. Padahal kata pepatah cinta itu buta. Terus ngapain juga pakai pilih-pilih warna segala. hehe
Oke surat telah jadi. Dibungkus amplop pink juga, disemprot dulu pakai parfum biar wangi. Tinggal dititipin ke kenalan si wanita idaman. Pak dosen menunggu laporan tukang pos dadakan sambil nongkrong di daerah gerbang kampus. Beberapa jam berlalu si pengirim surat akhirnya nongol juga. Langsung membawa surat balasan.
"Goz, ini balasan suratmu", kata si penghubung.
Pak dosen muda tak menyangka surat pernyataan cintanya langsung mendapat balasan secepat itu. Sebenarnya dia cuman berharap si penghubung memberi laporan bahwa suratnya telah sampai doang. Nggak perlu balasan secepat ini. Hati dosen muda dag dig dug tak menentu. Terlalu gerogi dia untuk melihat surat balasan itu.
"Ini ambil! Jangan bengong oi", sahut si pengantar surat membuyarkan kegalauan pak dosen muda.
"Ini kan amplop suratku tadi, kok dikembalikan"
Pak dosen muda heran suratnya dikembalikan lagi. Amplopnya sudah tidak tersegel, pertanda surat itu sudah dibuka.
"Balasan suratmu ada di dalam, aku pergi duluan ya", kata si penghubung sambil berlalu.
dag dig dug...
Diterima nggak ya??
dag dig dug...
Tangan dosen muda bergetar ringan, seolah ada gempa lokal 4 Richter.
dag dig dug...
Amplop mulai dibuka. Masih kertas yang sama.
"Ieu mah susuratan aing tadi", keluar logat asli dosen muda karena terkejut.
Pikirannya kosong sejenak. Diambil kertas pink yang masih tercium wangi mawar itu, amplop sudah tercampakan ke tanah. Ada coretan-coretan segar, jawaban atas perasaan dosen muda kah? Ada tambahan tulisan besar yang dilingkari.
"Belajar EYD lagi ya!"
Ternyata surat dosen muda dikoreksi habis-habisan oleh mahasiswi jurusan sastra Indonesia pujaannya itu.
Sebenarnya masalah EYD bukan perhatian utama anak sastra itu.
Tapi karena kesalahan dosen yang terlalu mendasar, menulis "di hatiku" menjadi "dihatiku", mengeja "kegundahan" menjadi "ke gundahan", "siapa pun" menjadi "siapapun", dll. maka dosen muda mendapat peringatan yang cukup menyakitkan. Disuruh mengulang pelajaran EYD lagi semasa SMA. Selain itu ada tulisan yang kesemuanya ditulis dengan huruf kapital.
"BACA KARYA KAHLIL GIBRAN, KEINDAHAN TULISANNYA MEMUKAU"
Kalimat per kalimat dosen muda mendapat koreksi bagaimana seharusnya tulisan yang indah itu. Keindahan dari segi sastra. Cara penolakan yang cukup nyesek. Gontai, dosen muda pun berjalan pulang.
Sedih karena ditolak itu cukup 3 hari saja. Kalau bisa sih kurang dari itu. Cinta itu seperti sillaturrahmi, jadi kalau silaturrahmi putus saja maksimal 3 hari untuk menyambungnya kembali. Demikian pula kalau cinta ditolak, cukup 3 hari untuk pulihkan diri. Prinsip itulah yang dipegang dosen muda. Sok bijak dia menasihati dirinya sendiri.
Mengapa harus sedih kalau dia menolakku?
Aku hanya kehilangan orang yang tidak pernah mencintaiku,
tapi dia kehilangan orang yang sangat mencintainya.
Dia kehilangan orang yang mau berbuat apa saja
hanya untuk sebuah senyum di wajahnya.
Dia kapok mendekati anak jurusan sastra. Menurut pak dosen, anak sastra itu selalu tidak puas akan keindahan. Perjalanan hidup pak dosen muda terus berlanjut. Takdir membuatnya bertemu dengan seorang mahasiswi jurusan ilmu pasti. Tampaknya mereka berdua saling cocok. Paling nggak jurusan ilmu pasti cintanya penuh kepastian. Seperti hukum Newton III, dimana ada aksi di situ ada reaksi. Cinta itu dua arah, saling memberi dan menerima. Sekarang beliau telah menikah dengan wanita dari jurusan ilmu pasti itu. Hidup bahagia, semoga semoga selalu bahagia.
----------------------------------------------------------------------------------
Begitulah curcol dosen pada suatu sesi kuliah kelas kami, 2"beep" Akuntansi. Bukan berarti penulis menganjurkan untuk meniru dosen ini dalam hal berpacaran. Namun ada nasihat lain yang bisa diambil. Khususnya bagi teman-teman yang mungkin memilih untuk berpacaran dulu. Tolonglah jangan bertindak annoying mengumbar masalah kalian di media umum. Semua orang pasti punya masalah, yang membedakan kualitasnya adalah bagaimana orang itu menyelesaikan masalahnya. Dengan mengumbar masalah hubungan kalian tidak akan pernah ada kemajuan dalam pemecahan masalah itu. Banyak negatifnya lah bersikap kayak gitu. Kalau memang perlu bantuan atau nasihat dalam menyelesaikan masalah, ya bilang aja ke orang tertentu. Jangan ditulis di status atau twit seakan minta belas kasihan dunia. Tapi percayalah, ujung jalan keluar dari masalahmu tergantung pada dirimu sendiri. Orang lain hanya pengiring, sebagai peran pembantu.