Receivable atau biasa diindonesiakan sebagai piutang terlahir dari suatu bentuk kepercayaan. Tanpa kepercayaan seorang pebisnis tidak mungkin berani merelakan barang atau jasanya dijual secara kredit. Dalam kejadian ini, secara akuntansi dicatat berbentuk Receivable dalam jurnal pebisnis tadi. Nah, Receivable ini ada dua macamnya. Accounts Receivable dan Notes Receivable.
Perbedaan dari kedua jenis Receivable tadi terletak pada perjanjian saat terjadinya peristiwa tersebut. Accounts Receivable perjanjian dilakukan secara lisan, sedangkan Notes Receivableperjanjian dilakukan secara tertulis. Lalu, menurut anda manakah yang lebih baik digunakan oleh seorang pebisnis?
Mungkin dalam sudut pandang bisnis, dengan keilmuan saya yang masih terbatas akan sulit menentukan mana yang lebih baik. Berdasar pemahaman keilmuan saya, sampai saat ini kedua-duanya baik karena akan meningkatkan asset kita. Asal bisa ditagih saja, tidak ada yang kena write off. Saya tidak berani berkomentar lebih jauh tentang Receivable ini karena memang ilmu yang saya peroleh masih kurang. Hehehe
Namun bila sudut pandang tentang Receivable itu saya kaitkan dengan filosofi hidup hubungan antar manusia akan lain ceritanya. Kalau dalam bidang ini saya berani memberi pandangan saya lebih jauh. Karena filosofi kemanusiaan seperti ini tidak bisa dipatenkan keilmuannya dalam buku. Setiap orang bebas memberikan pandangan sesuai dengan latar belakang kehidupannya. Tidak ada yang salah. Receivable saya samakan dengan hubungan antar manusia karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang secara alami tergerak untuk membalas budi. Jika menerimasuatu budi dari orang maka kita akan menganggapnya "utang budi". Menggunakan logika terbalik maka bisalah kita membuat suatu teori jika kita memberi budi kepada orang lain maka kita akan menganggapnya "piutang budi" dengan asumsi orang yang kita beri budi (jasa) itu adalah orang baik yang bersikap alami sebagai manusia yang ingin balas jasa.
Langsung saja contohnya biar lebih paham dengan pemkiran penulis. Budaya membantu Baduwi mengerjakan PR secara ikhlas. Budaya adalah seseorang yang selalu ikhlas menolong sesamanya. Sedangkan Baduwi adalah orang dengan jiwa besar yang selalu ingin membalas dengan kebaikan, perlakuan buruk kepadanya pun dibalas dengan kebaikan apalagi perlakuan baik. Pasti akan dianggap sebagai suatu "utang budi". Nah di buku jurnal Baduwi kini telah dicatat "pertolongan" pada "utang budi". Tentu bolehlah di buku jurnal Budaya kita asumsikan bisa menulis "piutang budi" pada "pertolongan".
Asumsi yang kita gunakan pada tulisan ini bolehlah disebut Receivable and Payable Theory in Life.
Accounts Receivable bisa dianalogikan layaknya orang berpacaran. Kita memberikan kepercayaan rasa cinta kita berdasarkan ikrar lisan. Tidak perlu ada saksi. Jadi tidak ada kekuatan hukum. Mungkin anda berfikir cinta yang berdasar kepercayaan saja yang terbaik, lebih terasa ketulusannya. Tidak perlu ada sesuatu yang mengikat secara resmi. Memang tulus dan percaya itu baik, namun bila seandainya Accounts Receivable Cinta yang anda berikan itu kemudian tidak dikembalikan bagaimana? Yah, tentu akan sangat kecewa bukan. Ini namanya bukan suudzon melainkan waspada. Tidak ada yang menjamin apa yang akan terjadi di masa depan.
Notes Receivable bisa kita padankan dengan orang yang menikah. Kepercayaan rasa cinta yang kita berikan selain disetujui secara lisan juga harus ada bukti fisik yang mempunyai kekuatan hukum. Selain dokumen, bisa juga menggunakan saksi. Apakah perasaan seperti ini tulus harus dicatat pakai dokumen resmi segala? Wah, justru levelnya lebih dari sekadar tulus. Dengan adanya Notes Receivable itu sudah mewakili komitmen kedua belah pihak. Komitmen untuk sama-sama beritikad baik memenuhi perjanjian mereka.
Sebagai laki-laki saya lebih memilih menggunakan Receivable tipe ini. Suatu saat saya akan berutang pada seorang wanita sebuah harta yang disebut cinta. Karena saya begitu ingin menghormati hak-hak wanita yang telah memberikan piutang cinta itu tentu saya tidak akan bertindak yang cuma omong doang. Harus ada Notes Receivable yang dicatat oleh wanita tadi sebagai itikad baik saya, sebagai pihak yang berutang, untuk menjaga ketenangan hatinya. Tentu saya tidak ingin membuat wanita khawatir.
Berkaitan dengan catat-mencatat utang-piutang ini Allah swt. Berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar…" (Al-Baqarah: 282)
Bila penulis ditanya mana yang dipilih diantara Accounts Receivable atau Notes Receivable, tanpa kebimbangan Notes Receivablelah yang akan dipilih.