Friday, 13 April 2012

Gugatan 17++

0 comments

"Tua itu kepastian, Dewasa itu Pilihan"
Kita sering mendengar ungkapan-ungkapan tersebut. Namun sebenarnya menurut hukum yang berlaku tidaklah demikian. Dewasa itu bukan suatu pilihan melainkan kewajiban bagi orang yang memenuhi syarat sebagai subjek hukum.
(salah satunya manusia yang sehat secara jasmani dan rohani). Dasar hukumnya adalah UU no 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan yaitu sesorang dianggap dewasa pada usia 18 tahun dan KUHPerdata yaitu pada usia 21 tahun. Selain dari sudut pandang hukum negara kedewasaan juga diberi definisi tersendiri berdasarkan syariat agama, biologi, psikologi, dll. Tulisan ini tidak akan membahas definisi kedewasaan dari berbagai cabang keilmuan itu. Yang akan dibahas adalah hasil pengamatan penulis tentang perilaku umum dalam usaha pribadi mencapai dan mempraktekkan kedewasaan itu. Jadi apa yang ditulis pada tulisan ini merupakan definisi dan karaketeristik kedewasaan dari sudut pandang penulis sendiri.

1#Sudah mahasiswa masih baca komik Wildlife, Yakitate Japan, Onepiece, Slam Dunk, dll. Idih nggak dewasa, banget!
2#Seorang guru berkata kepada seorang muridnya: Kamu bercita-cita jadi badut.  Apa tidak ada cita-cita lain yang lebih bagus seperti jadi dokter atau polisi supaya masa depanmu terjamin. Itu namanya dewasa banget!


Kalau untuk menjadi dewasa harus seperti itu, penulis merasa lebih baik menjadi anak kecil selamanya.
1#Bila kamu seorang penggemar kartun atau anime, kamu akan menemukan banyak nilai moral yang bisa dicontoh. Bahkan banyak komik yang memberi pengetahuan dengan cara simpel dan mudah dicerna. Komik Wildlife memberi tahu kita cara-cara sederhana menangani binatang peliharaan yang sakit, bahkan ada episode yang menerangkan trading di pasar saham (sumpah, gak nyambung dengan alur utama komik yg menceritakan dokter hewan). Yakitate Japan mengajarkan kita untuk menjadi kreatif, kembangkan imajanasi think breaking the box membuat roti. Onepiece membuat kita pantang menyerah mewujudkan mimpi dan arti sebuah persahabatan.
2#Kenapa pekerjaan sebagai badut harus dipandang rendah dari pekerjaan yang lain. Bukankah membuat orang tersenyum dan bahagia itu perbuatan mulia. Adilkah jika bagus tidaknya pekerjaan hanya dinilai dari segi materi.

Kedewasaan diidentikkan dengan harus membuang sama sekali sifat-sifat yang dimiliki seseorang pada masa kecilnya. Apakah harus begitu? Kedewasaan adalah bersikap bijaksana titik. Tidak perlu dispesifikkan. Bila pengertian kedewasaan terlalu sempit hanya akan memperjelek citra dewasa itu sendiri. Apa yang dimaksud penyempitan makna yang memperburuk citra? Kalau pingin lihat contoh konkritnya coba saja ketik keyword "dewasa" di google, nah hasil pencarian web  atau gambar itu merupakan contoh konkrit cerminan penyempitan makna "dewasa" yang memperburuk citra kedewasaan itu sendiri.
Bersikap bijaksana itu tidak bisa dinilai secara kuantitatif, sehingga tiap orang berbeda-beda dalam memberikan penilaian.
Bijaksana di sini mengandung artian mampu memadukan sifat-sifat unggul pada waktu kecil dan waktu tua.
Supaya lebih mengerti apa saja sifat yang melekat pada anak kecil dan orang tua yang masing-masing bagaikan berada di kutub selatan dan utara magnet itu ada baiknya kita mencari deskripsi lengkapnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anak Kecil (1-10 tahun)

Masa ketika kita bermimpi menjadi Power Rangers, Ultraman, Satria Baja Hitam, Panji Manusia Millenium, atau Saras 008 untuk menyelamatkan bumi.
Masa kita tidak segan-segan memakai kaos Upin-Ipin, Dora, Avatar, atau Spongebob sebagai ungkapan suka kita tanpa peduli apa kata orang lain. Masa yang tidak ada kepalsuan, kita jujur pada diri kita sendiri akan apa yang kita senangi atau tidak kita senangi. Masa saat dengan lantang dan penuh keyakinan kita mendeklarasikan mimpi kita di depan kelas bahwa kelak kita akan menjadi seorang pilot, astrounot, pemain bola di liga Inggris, atau Presiden. Masa ketika kita jarang bahkan tidak pernah berdandan atau pakai make up, tampil apa adanya. Itulah anak kecil, belum terpengaruh oleh pengetahuan yang membatasi perkembangan potensi sebenarnya dari setiap individu. Berpegang teguh pada mimpi, apa pun bisa saja terjadi. Bersikap realistis memang perlu, tapi sikap realistis itu jangan sampai membuat kita menjadi pesimis. Karena selepas masa kecil kita dicekoki dengan realita itulah akhirnya kita tidak bisa memaksimalkan potensi sebenarnya yang bisa kita lakukan.
Sebenarnya mimpi dan realita itu tipis bedanya. Mimpi bila berhasil diwujudkan maka akan disebut realita. Sedangkan hal yang nyata-nyata realistis bila cuma diangankan saja disebut "Ngimpi". Dulu saat jaman Kerajaan Majapahit bila berkata orang bisa pergi ke bulan pasti akan menjadi bahan tertawaan. Kalau jaman sekarang tentunya pergi ke bulan bukan sesuatu hal yang mengejutkan lagi. Itulah bukti relavitas mimpi dan realita. Kadang di suatu waktu masih digolongkan mimpi bagi semua orang, namun di suatu waktu lain oleh semua orang diterima sebagai realita. Keyakinan untuk mewujudkan mimpi menjadi realita itulah yang begitu membedakan anak kecil dan orang tua. Saat masih kecil keyakinan kita begitu kuat akan mimpi kita. Beda dengan kondisi umur 20 tahun ke atas, mimpi untuk menjadi presiden saja pasti mikir-mikir dulu.
Anak kecil juga lebih bersikap positif dalam memandang sesuatu. Mungkin orang tua akan mengutuk jika rumahnya kebanjiran. Berbeda dengan anak kecil yang malah menanggapinya dengan suka cita. Para anak kecil itu bisa berenang dan main air sepuasnya. Sesuatu yang mungkin jarang bisa mereka lakukan.

Orang Tua (21-… tahun)

Karena pengalaman mereka yang lebih banyak, orang tua lebih efisien dan efektif dalam mengambil keputusan. Kemampuan analisa dalam menyelesaikan maslah juga lebih baik. Orang tua juga lebih mandiri, mengingat mereka telah menguasai banyak keterampilan. Rasa tanggung jawab juga sudah selayaknya muncul. Bila anak-anak cenderung lebih memikirkan kesenangan diri sendiri, maka orang tua ini lebih memikirkan kesenangan orang lain. Kebahagian mereka bersumber dari kebahagian orang yang mereka cintai, keluarga atau sahabat mereka. Orang tua juga tidak mudah terprovokasi. Kemampuan memimpin juga mulai dimiliki. Minimal memimpin generasi yang lebih muda supaya bisa diarahkan ke generasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kalau yang pria mungkin minimal memimpin keluarga. Tapi kalau memimpin diri sendiri agaknya kurang tepat jika dikaitkan dalam kepemimpinan yang penulis maksud pada tulisan ini, yaitu kepemimpinan berdasarkan manajerial organisasi (minimal ada 2 orang). Orang tua juga lebih mengerti organisasi, sehingga bisa lebih mudah jika ikut serta dalam tatanan sosial masyarakat. Seumpama saja menjadi anggota RT yang baik.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nah sekarang waktunya membahas kedewasaan yang ideal.
Karakteristik kedewasaan yang ideal adalah mampu mencapai kelebihan yang dimiliki orang tua namun tanpa meninggalkan kelebihan yang dimiliki anak kecil.
Mungkin saja seseorang terlihat seperti anak kecil karena kerjaannya hanya main game, tapi suatu saat dia mampu mengambil keputusan sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Jadi kedewasaan tidak boleh diukur dari satu dua peristiwa saja. Harus dilihat secara track record dalam rentang waktu tertentu. Justru mereka yang bisa menikmati hidup dengan lepas tanpa beban bagaikan anak kecil, kemudian saat dihadapkan pada masalah mereka mampu bertindak serius sehingga mampu mengambil keputusan yang efektif dan efisien. Itu lah tingkat kedewasaan yang sebenarnya. Mulai sekarang jangan ragu bersikap seperti anak kecil, nikmati hidup. Biarkan apa kata orang. Biarkan saja kita yang hampir berusia kepala dua ini ditertawakan saat masih saja setia nonton Spongebob. Tapi tahukah orang yang menertawakan kita itu bahwa Spongebob juga mengajarkan kita untuk menjadi sahabat sejati, mencintai pekerjaan, selalu berprasangka baik, optimis, dll. Jangan pedulikan apa kata orang yang sok tahu tentang kedewasaan hingga memfatwa kita belum dewasa . Jangan pedulikan apa kata orang karena kita punya pemikiran dan pertimbangan sendiri dalam menikmati hidup sekaligus mengatasi (masalah) hidup.

Leave a Reply

Labels

 
The Ledger © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here