Kali ini dapat tawaran shooting salah satu acara di studionya MetroTV.
Oh man, It's MetroTV. Acaranya keren-keren pasti tidak hanya diisi para alay joget, orang naik elang, atau hantu gentayangan. Setidaknya acaranya berbobot*, seperti Kick Andy, MTGW, Mata Najwa, Economic Challenge, dll. Emang cocok profil mahasiswa sepertiku ini diundang shooting acara intelektual. hehe
"Kiz sesok acarane opo?", tanyaku pada teman SMA yang mengajakku.
Dia menjawab, "Galau Nite Kid, cucok karo suasana atimu."
(Jduarrr petir menyambar)
What the ..., kenapa dari sekian banyak acara harus acara ini. Pliss Man, sudah GeER kalau akan diundang acara yang berbau akademis, eh ternyata ujung-ujungnya kebagian acara GALAU.
Emang kalau muka galau gini nggak jauh-jauh deh sama undangan acara galau juga.
Emang kalau muka galau gini nggak jauh-jauh deh sama undangan acara galau juga.
Nggak cocok kalau dipaksain ikutan acara berbau intelektual. hadehhh...
Kamis sore para galauers sudah berkumpul di air mancur kampus STAN. Termasuk di antara mereka 3 teman semenjak SMA; Aku, Sukiz, Bayek. Sudah terlanjur membayar IDR 10rb, rugi kalau nggak jadi berangkat. Apalagi di akhir bulan gini uang segitu berharga banget untuk sekadar menyambung nyawa. Biarlah acaranya nggak jelas, yang penting dapat makan dan bisa refreshing. Upss, ketahuan deh motif utama berngkat. Kata kabar angin 10rb itu sudah dapat transport+makan besar. Siapa yang nggk mau coba?
Studio Metro aja di daerah Kebon Jeruk sono, uang 10rb aja ke sana pakai angkutan termurah sekelas kopaja aja nggak dapat pulang-pergi. Eh ini kendaraannya pakai Big Bird ber-AC full, ada tv, tempat duduk nyaman, plus sopir profesional. Maklum mini bus ini sehari-harinya dipakai antar jemput anak-anak ekspatriat Jepang yang bersekolah di sekolah internasional khusus jepang. Ditambah lagi entar juga dapat makan. Harga yang teramat murah untuk fasilitas yang diberikan.
Studio Metro aja di daerah Kebon Jeruk sono, uang 10rb aja ke sana pakai angkutan termurah sekelas kopaja aja nggak dapat pulang-pergi. Eh ini kendaraannya pakai Big Bird ber-AC full, ada tv, tempat duduk nyaman, plus sopir profesional. Maklum mini bus ini sehari-harinya dipakai antar jemput anak-anak ekspatriat Jepang yang bersekolah di sekolah internasional khusus jepang. Ditambah lagi entar juga dapat makan. Harga yang teramat murah untuk fasilitas yang diberikan.
(Tapi panitia pastinya dapat bayaran lebih organisir penonton kayak gini, per kepala dapat kisaran 50-100rb. Eh jangan sebut penonton dong, biar gaya sebut saja Aktor figuran)
Tak perlu kaget, di perjalanan Jakarta macet seperti biasa. Keluar tol dari Bintaro masuk daerah permata hijau, kondisi jalan sudah macet parah. Diperparah klakson tiada henti ungkapan ketidaksabaran.
Memperparah gundah gulana para galauers saja, besok tanggal 20 lagi.(Nggak ada hubungannya)
Kalau naik sepeda motor agak ngebut dari Bintaro sampai ke fly over permata hijau kira-kira butuh 20 menit. Eh ini sudah lewat tol masih aja makan waktu hampir 45 menit.
Akhirnya sampai juga di kompleks studio MetroTV, tempatnya agak masuk ke dalam sih. Dekat rawa-rawa yang masih kosong. Beda sama studio Trans yang tepat dipinggir jalan ramai di kisaran Kuningan sana.
Tempat tak jadi masalah yang penting fasilitasnya. Fantastico, di studio MetroTV ada banyak karya seni. Dua patung besar dewi menari menyambut di pintu masuk. Sebegitu besarnya sampai tinggimu paling-paling di atas tumitnya lebih dikit. Di setiap koridor ada lukisan yang tak kalah keren. Propeti di semua ruang juga unik-unik, desain interior yang memukau.
Sesampai studio kita langsung disuguhi makan. Walau makanan kotak tapi bagi anak kos menu ini tetap perbaikan gizi. Sambil nunggu sesi shooting dimulai, banyak galauers yang memanfaatkan untuk berfoto ria. Lumayanlah buat kenang-kenangan sekaligus bahan cerita untuk keluarga di rumah. Ibuu... anakmu akan masuk TV Ibuuu. Walau mungkin cuma kelihatan kepala doang, sekilas lagi.
Pegawai di sana juga ramah-ramah. Ngobrol santai di sana senyaman di cafe kelas atas, apalagi disediakan kopi dan teh hangat self service. Oh 10rb yang tak sia-sia dikeluarkan dari dompet.
Tempat setting acara ada di lantai tiga. Yang patut mendapat jempol adalah ekskalator di sana hanya dinyalakan waktu ada yang pakai saja. Suatu penghematan energi yang patut diapresiasi.
Akhirnya kami bertiga mendapat tempat duduk di deretan paling depan dan terdekat dengan bintang tamu.
Sialnya baru lima menit duduk sudah diusir, kemudian disuruh menempati tempat duduk sebelah samping.
Sialnya baru lima menit duduk sudah diusir, kemudian disuruh menempati tempat duduk sebelah samping.
Memang sih tempat duduk sebelah samping kesempatannya lebih besar untuk kena shooting. Namun dari samping tidak bisa menikmati acara lelucon yang dibawakan para Komiks semisal Solih Solihun (Pembawa Acara), Asep Suaji, Raditya Dika, dan Acho. Kalau karena perintah pengarah acara saja bisa membuat trio ini tunduk, jangan panggil kami laki-laki. Sewaktu pengarah acara lengah kami duduk lagi ke banjar semula tapi barisnya agak ke belakang. Sadar atas sifat keras kepala tiga anak muda ini, pengarah acara menyerah. Dia menyuruh anak lain untuk duduk di samping bintang tamu. Yeah, like a boss. Kami bertiga duduk di bangku yang bisa dibilang paling dekat dengan bintang tamu dan paling nyaman untuk menonton jalannya acara.
Episode kali ini mengambil tema "Balapan ke Hatimu". Karena bintang tamu spesial yang diundang adalah pembalap cantik Alexandra Asmasoebrata.
Mbak Alex sudah mulai membalap semenjak kecil. Awalnya memang dia dipaksa oleh Ayahnya. Tapi seiring waktu berlalu, balapan menjadi hobi tak terpisahkan dari hidupnya.
Sepanjang acara berlangsung kami semua galauers dibuat tertawa terpingkal-pingkal dengan polah tingkah para Komiks. Galau, lewat deh. Berganti senyum ceria karena emang pembawa acara Solih Solihun sangat interaktif kepada para audience. Asep Suaji senantiasa curi-curi kesempatan untuk menggoda mbak Alex, namun selalu berakhir dengan ejekan dari dari Komiks yang lain terutama Raditya Dika. Walau judulnya Galau Nite, namun acara ini malah sukses bikin kegalauan hilang. Tertawa terus deh bawaannya.
Kejadian paling absurd adalah ketika Solih Solihun gencar mengiklankan Bla*ckbe**y playbooknya, ternyata gadget itu nggak nyala-nyala. Akhirnya dari pada kelamaan nunggu, pengarah acara menyobek skrip kertas yang dia bawa. Sobekan itu kemudian ditaruh di atas playbook 'canggih' itu. Saat membacanya juga harus berhati-hati supaya nggak kesorot kamera. Eaaa, percuma punya alat baca digital bagus tapi pada akhirnya pakai kertas manual. Karena kejadian ini aku jadi paham, apa yang ditampilkan di layar TV itu tergantung motif penyiarnya. Kalau ingin promosi, ya jelas yang ditayangkan bagus-bagusnya. Tapi kalau ingin ngejatuhin citra pemerintah, ya tiap hari ditayangin jelek-jeleknya terus.Media memang sangat efektif untuk membolak-balikkan kaca mata perpektif. Gini ni contohnya:
Panasaran juga bagaimana hasil shooting pada hari itu setelah diedit dan ditayangkan. Kalau kalian juga penasaran ikutan saja nonton galau Nite setiap hari Sabtu pukul 22.30. Mari jadikan kegalauan kita sebagai pemacu untuk lebih produktif. Salam Galau!!!!
Sepanjang acara berlangsung kami semua galauers dibuat tertawa terpingkal-pingkal dengan polah tingkah para Komiks. Galau, lewat deh. Berganti senyum ceria karena emang pembawa acara Solih Solihun sangat interaktif kepada para audience. Asep Suaji senantiasa curi-curi kesempatan untuk menggoda mbak Alex, namun selalu berakhir dengan ejekan dari dari Komiks yang lain terutama Raditya Dika. Walau judulnya Galau Nite, namun acara ini malah sukses bikin kegalauan hilang. Tertawa terus deh bawaannya.
Kejadian paling absurd adalah ketika Solih Solihun gencar mengiklankan Bla*ckbe**y playbooknya, ternyata gadget itu nggak nyala-nyala. Akhirnya dari pada kelamaan nunggu, pengarah acara menyobek skrip kertas yang dia bawa. Sobekan itu kemudian ditaruh di atas playbook 'canggih' itu. Saat membacanya juga harus berhati-hati supaya nggak kesorot kamera. Eaaa, percuma punya alat baca digital bagus tapi pada akhirnya pakai kertas manual. Karena kejadian ini aku jadi paham, apa yang ditampilkan di layar TV itu tergantung motif penyiarnya. Kalau ingin promosi, ya jelas yang ditayangkan bagus-bagusnya. Tapi kalau ingin ngejatuhin citra pemerintah, ya tiap hari ditayangin jelek-jeleknya terus.Media memang sangat efektif untuk membolak-balikkan kaca mata perpektif. Gini ni contohnya:
Panasaran juga bagaimana hasil shooting pada hari itu setelah diedit dan ditayangkan. Kalau kalian juga penasaran ikutan saja nonton galau Nite setiap hari Sabtu pukul 22.30. Mari jadikan kegalauan kita sebagai pemacu untuk lebih produktif. Salam Galau!!!!