Friday, 13 April 2012

Gugatan 17++

0 comments

"Tua itu kepastian, Dewasa itu Pilihan"
Kita sering mendengar ungkapan-ungkapan tersebut. Namun sebenarnya menurut hukum yang berlaku tidaklah demikian. Dewasa itu bukan suatu pilihan melainkan kewajiban bagi orang yang memenuhi syarat sebagai subjek hukum.
(salah satunya manusia yang sehat secara jasmani dan rohani). Dasar hukumnya adalah UU no 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan yaitu sesorang dianggap dewasa pada usia 18 tahun dan KUHPerdata yaitu pada usia 21 tahun. Selain dari sudut pandang hukum negara kedewasaan juga diberi definisi tersendiri berdasarkan syariat agama, biologi, psikologi, dll. Tulisan ini tidak akan membahas definisi kedewasaan dari berbagai cabang keilmuan itu. Yang akan dibahas adalah hasil pengamatan penulis tentang perilaku umum dalam usaha pribadi mencapai dan mempraktekkan kedewasaan itu. Jadi apa yang ditulis pada tulisan ini merupakan definisi dan karaketeristik kedewasaan dari sudut pandang penulis sendiri.

1#Sudah mahasiswa masih baca komik Wildlife, Yakitate Japan, Onepiece, Slam Dunk, dll. Idih nggak dewasa, banget!
2#Seorang guru berkata kepada seorang muridnya: Kamu bercita-cita jadi badut.  Apa tidak ada cita-cita lain yang lebih bagus seperti jadi dokter atau polisi supaya masa depanmu terjamin. Itu namanya dewasa banget!


Kalau untuk menjadi dewasa harus seperti itu, penulis merasa lebih baik menjadi anak kecil selamanya.
1#Bila kamu seorang penggemar kartun atau anime, kamu akan menemukan banyak nilai moral yang bisa dicontoh. Bahkan banyak komik yang memberi pengetahuan dengan cara simpel dan mudah dicerna. Komik Wildlife memberi tahu kita cara-cara sederhana menangani binatang peliharaan yang sakit, bahkan ada episode yang menerangkan trading di pasar saham (sumpah, gak nyambung dengan alur utama komik yg menceritakan dokter hewan). Yakitate Japan mengajarkan kita untuk menjadi kreatif, kembangkan imajanasi think breaking the box membuat roti. Onepiece membuat kita pantang menyerah mewujudkan mimpi dan arti sebuah persahabatan.
2#Kenapa pekerjaan sebagai badut harus dipandang rendah dari pekerjaan yang lain. Bukankah membuat orang tersenyum dan bahagia itu perbuatan mulia. Adilkah jika bagus tidaknya pekerjaan hanya dinilai dari segi materi.

Kedewasaan diidentikkan dengan harus membuang sama sekali sifat-sifat yang dimiliki seseorang pada masa kecilnya. Apakah harus begitu? Kedewasaan adalah bersikap bijaksana titik. Tidak perlu dispesifikkan. Bila pengertian kedewasaan terlalu sempit hanya akan memperjelek citra dewasa itu sendiri. Apa yang dimaksud penyempitan makna yang memperburuk citra? Kalau pingin lihat contoh konkritnya coba saja ketik keyword "dewasa" di google, nah hasil pencarian web  atau gambar itu merupakan contoh konkrit cerminan penyempitan makna "dewasa" yang memperburuk citra kedewasaan itu sendiri.
Bersikap bijaksana itu tidak bisa dinilai secara kuantitatif, sehingga tiap orang berbeda-beda dalam memberikan penilaian.
Bijaksana di sini mengandung artian mampu memadukan sifat-sifat unggul pada waktu kecil dan waktu tua.
Supaya lebih mengerti apa saja sifat yang melekat pada anak kecil dan orang tua yang masing-masing bagaikan berada di kutub selatan dan utara magnet itu ada baiknya kita mencari deskripsi lengkapnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anak Kecil (1-10 tahun)

Masa ketika kita bermimpi menjadi Power Rangers, Ultraman, Satria Baja Hitam, Panji Manusia Millenium, atau Saras 008 untuk menyelamatkan bumi.
Masa kita tidak segan-segan memakai kaos Upin-Ipin, Dora, Avatar, atau Spongebob sebagai ungkapan suka kita tanpa peduli apa kata orang lain. Masa yang tidak ada kepalsuan, kita jujur pada diri kita sendiri akan apa yang kita senangi atau tidak kita senangi. Masa saat dengan lantang dan penuh keyakinan kita mendeklarasikan mimpi kita di depan kelas bahwa kelak kita akan menjadi seorang pilot, astrounot, pemain bola di liga Inggris, atau Presiden. Masa ketika kita jarang bahkan tidak pernah berdandan atau pakai make up, tampil apa adanya. Itulah anak kecil, belum terpengaruh oleh pengetahuan yang membatasi perkembangan potensi sebenarnya dari setiap individu. Berpegang teguh pada mimpi, apa pun bisa saja terjadi. Bersikap realistis memang perlu, tapi sikap realistis itu jangan sampai membuat kita menjadi pesimis. Karena selepas masa kecil kita dicekoki dengan realita itulah akhirnya kita tidak bisa memaksimalkan potensi sebenarnya yang bisa kita lakukan.
Sebenarnya mimpi dan realita itu tipis bedanya. Mimpi bila berhasil diwujudkan maka akan disebut realita. Sedangkan hal yang nyata-nyata realistis bila cuma diangankan saja disebut "Ngimpi". Dulu saat jaman Kerajaan Majapahit bila berkata orang bisa pergi ke bulan pasti akan menjadi bahan tertawaan. Kalau jaman sekarang tentunya pergi ke bulan bukan sesuatu hal yang mengejutkan lagi. Itulah bukti relavitas mimpi dan realita. Kadang di suatu waktu masih digolongkan mimpi bagi semua orang, namun di suatu waktu lain oleh semua orang diterima sebagai realita. Keyakinan untuk mewujudkan mimpi menjadi realita itulah yang begitu membedakan anak kecil dan orang tua. Saat masih kecil keyakinan kita begitu kuat akan mimpi kita. Beda dengan kondisi umur 20 tahun ke atas, mimpi untuk menjadi presiden saja pasti mikir-mikir dulu.
Anak kecil juga lebih bersikap positif dalam memandang sesuatu. Mungkin orang tua akan mengutuk jika rumahnya kebanjiran. Berbeda dengan anak kecil yang malah menanggapinya dengan suka cita. Para anak kecil itu bisa berenang dan main air sepuasnya. Sesuatu yang mungkin jarang bisa mereka lakukan.

Orang Tua (21-… tahun)

Karena pengalaman mereka yang lebih banyak, orang tua lebih efisien dan efektif dalam mengambil keputusan. Kemampuan analisa dalam menyelesaikan maslah juga lebih baik. Orang tua juga lebih mandiri, mengingat mereka telah menguasai banyak keterampilan. Rasa tanggung jawab juga sudah selayaknya muncul. Bila anak-anak cenderung lebih memikirkan kesenangan diri sendiri, maka orang tua ini lebih memikirkan kesenangan orang lain. Kebahagian mereka bersumber dari kebahagian orang yang mereka cintai, keluarga atau sahabat mereka. Orang tua juga tidak mudah terprovokasi. Kemampuan memimpin juga mulai dimiliki. Minimal memimpin generasi yang lebih muda supaya bisa diarahkan ke generasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kalau yang pria mungkin minimal memimpin keluarga. Tapi kalau memimpin diri sendiri agaknya kurang tepat jika dikaitkan dalam kepemimpinan yang penulis maksud pada tulisan ini, yaitu kepemimpinan berdasarkan manajerial organisasi (minimal ada 2 orang). Orang tua juga lebih mengerti organisasi, sehingga bisa lebih mudah jika ikut serta dalam tatanan sosial masyarakat. Seumpama saja menjadi anggota RT yang baik.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nah sekarang waktunya membahas kedewasaan yang ideal.
Karakteristik kedewasaan yang ideal adalah mampu mencapai kelebihan yang dimiliki orang tua namun tanpa meninggalkan kelebihan yang dimiliki anak kecil.
Mungkin saja seseorang terlihat seperti anak kecil karena kerjaannya hanya main game, tapi suatu saat dia mampu mengambil keputusan sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Jadi kedewasaan tidak boleh diukur dari satu dua peristiwa saja. Harus dilihat secara track record dalam rentang waktu tertentu. Justru mereka yang bisa menikmati hidup dengan lepas tanpa beban bagaikan anak kecil, kemudian saat dihadapkan pada masalah mereka mampu bertindak serius sehingga mampu mengambil keputusan yang efektif dan efisien. Itu lah tingkat kedewasaan yang sebenarnya. Mulai sekarang jangan ragu bersikap seperti anak kecil, nikmati hidup. Biarkan apa kata orang. Biarkan saja kita yang hampir berusia kepala dua ini ditertawakan saat masih saja setia nonton Spongebob. Tapi tahukah orang yang menertawakan kita itu bahwa Spongebob juga mengajarkan kita untuk menjadi sahabat sejati, mencintai pekerjaan, selalu berprasangka baik, optimis, dll. Jangan pedulikan apa kata orang yang sok tahu tentang kedewasaan hingga memfatwa kita belum dewasa . Jangan pedulikan apa kata orang karena kita punya pemikiran dan pertimbangan sendiri dalam menikmati hidup sekaligus mengatasi (masalah) hidup.
Read more...

Mentari pada Bumi

0 comments

Siang panas makin memanas karena harap-harap cemas.
Cemas, galau, deg-degan, apa aja deh menunggu giliran eksekusi.
Sang eksekutor tak lain dosen kami, Pak Sukasdi.
Jika kau terbiasa bepikir sebelum melangkah.
Khusus di ruangan ini sebaiknya kau berpikir seribu kali sebelum bertitah. (baca: berbicara)
Mungkin Pak Sukasdi masa mudanya bercita-cita jadi editor namun tak kesampaian.
Akhirnya tiap perkataan kamilah yang jadi bahan suntingan beliau.
Semoga saja tulisan ini tidak pernah dibaca  beliau, karena pasti banyak susunan kata yang mengkudeta EYD.

"Iya, Mas di belakang yang pakai baju telur asin"

Wad Dafuuuuuu.... Telor asin.
Kayaknya tidak ada yang memakai baju biru muda selain aku.
Sial, pasti kebagian kena pertanyaan ini.

"Apa perbedaan 'mencinta' dengan 'mencintai'?"

Asian level! Hanya beda "i" tapi kalau yang menanyakan Pak Sukasdi ada aura tekanan akademis penuh misteri.
Beliau mempertanyakan "i" mungkin karena nama beliau SUKASDI = Suka Sekali Dengan I. #Jelas itu ngarang doang
Sekenanya saja kujawab "mencinta" adalah suatu kata kerja diawali imbuhan "me-" yang merupakan pembentuk kata kerja aktif untuk menyatakan kegiatan cinta (aktif) tanpa butuh objek, secara sederhana diartikan melakukan cinta.
Sedangkan "mencintai" adalah suatu evolusi dari kata "mencinta" yang kini telah menemukan pasangannya sehingga kini ada objek untuk diberi cinta itu sendiri, secara sederhana diartikan memberikan cinta kepada titik-titik.
Abstrak? Iya, Aku pun sebenarnya bingung dengan yang aku omongkan. Problem?

"Mas, bedanya kan cuma di huruf "i". Kenapa panjang-panjang jawabnya?"

Ketika kita panjang lebar menjelaskan namun dosen memberikan jawaban yang anak sd pun tahu itu, serasa naik paus akrobatik kemudian meluncur ke langit. Pas sampai langit ada burung garuda ditunggangi pangeran, sang pangeran bertarung dengan monster naga. Paus pun jadi penonton setia sinetron laga di Indo*si*ar itu. #Ah maaf ngelantur, kadang nonton juga sih

"Bahasa yang Mas gunakan untuk menerangkan perbedaan dua kata itu adalah bahasa kamus."
"Coba gunakan bahasa sastra untuk menerangkan perbedaannya!"

Karena waktu kuliah sudah habis, akhirnya pertanyaan itu dijadikan tugas untukku.
Meniru gaya pemain bola setelah berhasil cetak gol, aku  langsung buka baju kuliah.
Sementara di dalamnya ada kaos putih polos denga tulisan  "Why always me!".
Bukan selebrasi bahagia, tapi protes kenapa aku dibrondong rentetan pertanyaan seperti itu coba.
Untuk menuangkan ke dalam bahasa satra itu tak semudah membalik kartu UNO waktu main di Sevel.
Perlu perasaan tersendiri yang tercurahkan saat kita pernah atau sedang mengalami peristiwa itu.

Di antara ribuan kata di kamus kenapa harus kata dasar itu? C.I.N.T.A
Sebagai manusia usia tanggung, dewasa belum tapi juga nggak bisa lagi disebut remaja.
Pertama kali yang terlintas di alam bawah sadar tiap dengar kata C.I.N.T.A  pastilah cinta dengan lawan jenis.
Cinta antara laki-laki dengan perempuan. Walaupun saat awal-awal masuk kampus sempat dibuat horor dengan banyaknya isu cinta sejenis. Sstt.. Cukup untuk konsumsi internal.
Jangan sampai nyebar lagi gurauan bahwa 50% Mahasiswa di sini Maho, sisanya?? Pasangannya!! @#$$%$#

Ada teman yang menyarankan untuk nonton film-film drama korea.
Supaya nanti bisa dapat feel membuat tulisan bahasa satra tentang C.I.N.T.A. Boleh juga tuh ide dia.
Wow, si teman yang kena sindrom Koreanefelter akut ini punya koleksi lengkap berbagai pernak-pernik korea.
Film koreanya saja hardisk satu terra tak muat. Padahal wajah tulen Jawa, tapi kok ya fanatik banget Korea.
Biarlah krisis identitas itu masalah dia yang penting sekarang udah dapat beberapa film rekomendasi.

Memang secara kualitas drama Korea jauh lebih baik dibanding tayangan shi*netron di tanah air.
Pada drama Korea karakter tokoh tidak monoton dan susah ditebak. Tidak 100% protagonis atau pun antagonis.
Tokoh protagonis bukannya tanpa cela namun juga diekspose sisi negatif juga.
Semisal biasanya mereka tengil, emosional, labil, namun sebenarnya bisa bersikap hangat  dan peduli.
Beda dengan shi*netron tanah air, seorang tokoh protagonis pasti selalu digambarkan terlalu baik.
Bahkan saking baiknya berkali-kali dijahati tokoh antagonis tetap saja bersikap iklas dan memberikan senyuman maaf, tanpa pernah melakukan perlawanan berarti. Sisi negatif yang manusiawi tidak pernah diekspose, seorang tokoh hanya digambarkan pada dua kondisi ekstrim, kalau tidak malaikat ya setan.
Itu baru dari segi penokohan. Dari segi alur shi*netron kita kalah telak dalam hal kreatifitas.
Mungkin karena hanya mengejar rating hingga alurnya makin dipanjang-panjangin.
Tidak sesuai proporsi awal, masak sampai cucu cicit dari tokoh utama diceritakan juga.
Mulai deh melenceng lagi. Malah sekarang sok jadi jadi kritikus film.

Secara pribadi aku akui memang film drama Korea pandai dalam memainkan emosi penonton.
Kenapa?? Karena kita dibuai dalam berbagai kisah yang mungkin sulit kita temui di kehidupan nyata pribadi kita.
Jadi, bangun oi itu film. Jangan baui hidupmu dengan khayalan dari cerita. Kita hidup dalam dunia realita.Berkhayal dan bercita-cita itu beda jauh lho. 
Berharap itu harus, namun tetap pada harapan yang bisa langsung kita ambil aksi untuk wujudkan dalam kehidupan nyata. Bukan hanya harapan yang membuat kita menunggu tanpa kejelasan dan tanpa bisa berbuat apa pun.

Untuk membuat tulisan tentang C.I.N.T.A, tugas dari Pak Sukasdi, aku butuh sesuatu yang lebih nyata.
Sesuatu yang bisa kurasakan langsung. Bukan cuma angan-angan melankolik semata.
Ah tapi bagaimana cara lain supaya lebih mengerti?
Lagian juga minim pengalaman tentang masalah begituan.
Ah di masa penuh tekanan ini aku butuh keluargaku, terutama Ibuku.
Ibu selalu ada sebagai tempatku berbagi.
Ibu tak perlah lelah peduli padaku, mendukungku, dan memberikan nasihat-nasihat juga.
Tiada cinta setulus cinta Ibu. Eh tungu-tunggu, barusan kita ngomongin tentang C.I.N.T.A kan??
Wow ini dia yang aku cari, realita cinta yang murni.
Aku bisa belajar dari cara Ibu mencintaiku yang kemudian kugunakan untuk mencinta (tanpa "i" artinya belum ada objek). Yeah, perlahan tapi pasti  belajar dan belajar. Belajar mencinta setulus Ibu.  


                                                                                                                     14 Februari 2011
                                                              Tugas Bahasa Indonesia
Nama    : Ksatria Berbaju Telor Asin
Kelas     : Bulu
No. Urut : 01 

---------------------
Mentari pada bumi-------
Tiada rumus  terima-beri--
Petang terang silih berganti------------
Sinar itu senatiasa cairkan beku hati--
Hujan reda mendistorsi sinar pelangi--
Seputih terurai warna-warni-----------
Orbit Πr2 tak bersudut mati--
Mentari pada bumi----------
----------------------
Read more...

Catatan Tentang Negeriku

0 comments

Bagian 1: BBM

Mengenai wacana kenaikan BBM, saya termasuk masyarakat yang menolak. Mungkin para golongan pro-kenaikan BBM berdalih, subsidi kenaikan BBM bisa dialihkan ke bidang kesehatan dan pendidikan untuk membantu mereka yang miskin. Namun etiskah jika kita membuat rakyat semakin miskin dulu, baru memberi bantuan pendidikan dan kesehatan. Saya bilang menjadikan rakyat miskin dulu berdasarkan kondisi yang terjadi pada tahun 2006. Saat Pemerintahan SBY-JK menaikkan harga BBM (1 Oktober 2005) rata-rata 126%, 15juta kepala keluarga mendadak masuk jurang kemiskinan. Lebih jauh lagi kebijakan ini ikut menyundul inflasi sampai 18% hingga membuat BI dan sektor riil menggigil. Tak akan ada artinya kalau kita menunggu rakyat miskin dulu baru memberi subsudi pada pendidikan dan kesehatan. Sebab ketika perut lapar, pendidikan bagi rakyat kecil itu menjadi tidak penting lagi. Akibatnya hanya akan menambah anak putus sekolah saja.

Bila alasan yang digunakan adalah untuk membatasi pertambahan kendaraan bermotor yang menggila. Saya rasa yang harus disorot adalah kemudahan pemberian kredit motor. Dengan DP Rp 500rb sekarang kita bisa membawa pulang sepeda motor baru. Seharusnya aturan pemberian kredit ini diperketat. Bila kenaikan harga untuk tujuan pembatasan penggunaan BBM sebagai energi yang tidak terbarukan, lebih baik dilakukan dengan himbauan moral dan pengembangan teknologi. Walau pun prosesnya lama, namun cara ini akan lebih efektif untuk meredam gejolak ekonomi yang bisa ditimbulkan seiring kenaikan BBM. Himbauan moral bisa dilakukan dengan kampanye Bike to School, Go Green, gerakan jalan kaki, konversi ke energi yang terbarukan melalui berbagai riset, dll.

Membahas BBM tak afdhol bila tidak membahas ladang minyak di negeri sendiri. Yang cukup menyesakkan adalah gagalnya Blok Cepu diolah oleh Pertamina sendiri. Pada 14 Maret 2006, blok itu resmi diserahkan pemerintah kepada Exxon Mobile Corporation dengan diiringai pemecatan Dirut Pertamina Widya Purnama sehari sebelum Menlu AS Condoleeza Rice berkunjung ke Indonesia. Untung saja Condy, begitu Menlu AS itu biasa disapa, tidak membawa pesan untuk memenjarakan Dirut yang dianggap "mbeling" itu.

Kalau saja pemerintah AS juga memintanya sebagai prasyarat bagi kepercayaan internasional yang mahal itu, tidak mustahil akan ada tim untuk mencari kesalahan Widya guna menggiringnya ke penjara. Termasuk mendapat kepercayaan IMF dan WB untuk menambah pinjaman guna menutupi pinjaman sebelumnya supaya pertumbuhan ekonomi tetap tinggi. Pertumbuhan dalam angka saja, yang tidak diiringi peningkatan kesejahteraan rakyat.
Seiring pemecatan itu pembongkaran terhadap borok Pertamina seperti penyelundupan BBM bersubsidi ke luar negeri, penyedotan minyak di tengah laut dan lain-lain (yang menyudutkan Widya) menguap begitu saja.
Tak ada penyelidikan, apalagi penyidikan terhadap kasus yang merugikan negara puluha triliyun itu.

Di sisi lain akan muncul masalah baru yang akibatnya jangka panjang. Sebab dijegalnya Pertamina mengelola sendiri ladang minyak yang ada di wilayah Bojonegoro dan Blora itu, telah menutup peluang Pertamina menjadi perusahaan pertambangan minyak dan gas kelas dunia. Baihaki Hakim dan Dirut-dirut Pertamina selanjutnya sampai Widya Purnama, berhasil meyakinkan pemerintahan Gus Dur-Mega sampai Mega-Hamzah bahwa berdasar kemampuan ahli dari Indonesia dan deposit minyak berlimpah 1,4 miliyar barel dan gas sekitar 8,772 triliun kaki kubik, bila Pertamina diberi kesempatan mengelola sendiri maka keuntungan akan jauh lebih besar bagi negara. Selain itu pada masa pemerintahan ini pemerintah terus mendapat tekanan dari AS. Bahkan Dubes AS Ralph L Boice ikut campur. Amien Rais, Ketua MPR waktu itu sampai berteriak agar pemerintah AS menghormati kedaulatan RI mengambil keputusan sendiri soal blok cepu.

Sayangnya argumentasi itu kandas di pemerintahan SBY-JK, presiden yang dipilih langsung oleh rakyatnya. Kontrak yang mestinya berakhir 2010 itu diperpanjang lagi hingga 20tahun. Jadi ketika deposit minyak dan gas blok itu terkuras habis, baru blok Cepu akan kembali ke pangkuan Ibu pertiwi. Yang tersisa tinggal bencana seperti yang menimpa penduduk sekitar tambang emas Newmond Minahasa dan Freeport-juga milik AS. Bahkan Exxon naik kelas dari technical assistant contract menjadi kontrak bagi hasil, di mana Exxon menjadi operator utama. Bagi hasilnya menjadi 45% buat Pertamina, 45% buat Exxon dan sisanya 10% untuk pemda Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pemda juga harus merogoh kocek 2 triliyun untuk bisa mendapatkan bagi hasil itu.

Ini menunjukkan Exxon berhasil mendikte keinginannya pada pemerintah. Sebab untuk mengeksplorasi blok cepu, pemerintah berharap akan ada investasi US$ 2,5 miliar. Nah bila untuk mendapat saham 10% saham itu Pemda Jatim dan Jateng harus patungan untuk membayar Rp 2 triliyun atau sekitar US$ 2,1 miliar, maka Exxon hanya butuh tambahan sedikit saja untuk memenuhi tagihan investasinnya (tinggal sekitar US$ 0,4 miliar). Padahal berdasar UU Otonami Daerah, pemdalah yang lebih berhak mengelola blok Cepu sebagai asetnya. Mengapa masih harus bayar?

Padahal kalau pemerintah mau mengelola sendiri, dengan cadangan minyak dan gas sebesar itu dan harga minyak yang bisa mencapai US$ 100/barel, dananya tidak akan sulit didapat. Sebab lembaga pendanaan akan antri untuk ikut investasi. Jadi alasan bahwa pertamina tidak cukup punya dana adalah mengada-ada. Bila alasan bahwa pertamina belum mampu juga tidak bisa dibenarkan. Karena para ahli pertamina yang berpengalaman sudah menyanggupinya.

Itu saja kerugian yang kita derita? Itu belum seluruhnya. Kita jadi kehilangan 4 poin utama seiring jatuhnya blok Cepu ke Exxon:1. Kontrol atas minyak itu jatuh ke tangan asing. Kita tidak bisa mengetahui deposit dan produksi sebenarnya seperti yang terjadi di Freeport. Akibatnya pembagian hasil yang 45% dan 10% itu bisa lebih kecil dari nilai sebenarnya.
2. Kesempatan untuk belajar mengelola sendiri tambang minyak di negeri sendiri jadi hilang. Sehingga kesempatan untuk menjadi perusahaan berskala internasional seperti Petronas pun hilang.
3. Rakyat sekitar hanya kebagian limbah dan polusi. Jarang pekerja profesional yang berasal dari negeri sendiri. Hanya buruh atau pekerja kasar yang diambil dari rakyat sekitar.4. Kesempatan untuk memperbaiki kontrak-kontrak pertambangan yang sudah berjalan selama ini untuk kemakmuran bangsa jadi hilang.

Dalam hal terakhir itu sebenarnya kita bisa belajar dari ahli ekonomi Pakistan Abul A'la Maudadi. Menurut ekonom itubarang tambang adalah pemberian Tuhan untuk seluruh penduduk negeri, baik yang hidup sekarang maupun yang bakal lahir. Dia menyandarkan teorinya pada Al Quran yang menetapkan zakat barang tambang 20%. Bertolak dari ajaran itu Maudadi berpendapat bahwa pemerintah hanya berhak berbagi hasil kepada investor yang 80% itu. Sementara yang 20% dari hasil tambang mesti dialokasikan untuk menjamin pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan penduduk terutama yang berada di Cepu Blora, Bojonegoro, dan Tuban. Tidak ada alasan konyol untuk memaksa mereka membeli milik mereka sendiri. Yang harus membeli adalah pihak Exxon. Di era global ini semetinya pemerintah mengadopsi teori Maudadi, bukan sekadar menerima pemikiran Exxon mentah-mentah. Ini juga bisa dijadikan titik tolak untuk perbaiki semua kontrak pertambangan, termasuk Freeport yang menguasai hampir 100% tambang emas di Timika setelah pengusaha nasional Grup Bakrie menjual 7,5% sahamnya ke Freeport.

Tentu masih banyak jalan untuk membatalkan kontrak-kontrak pertambangan yang merugikan Negara dan bangsa tersebut, kalau pemerinah "mau". Sebab bila berpegang pada UUD 1945 pasal 33 misalnya, di mana ditetapkan bumi, air, dan kekayaan di dalamnya adalah milik negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Maka semua itu bisa dibatalkan demi hukum. Cuma tentu saja harus dilakukan lewat jalur pengadilan.

NB: Sebagian besar disalin dari => Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia Ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia


Bagian 2: Pertanian

Sejak kecil berkali-kali kita dikasih tahu bahwa Indonesia merupakan negara agraris. Namun semakin bertambah umur, saya semakin heran saja kenapa para petani tidak semakin sejahtera. Impor barang pertanian juga terus dilakukan. Kebiasaan impor dengan dalih penstabil harga tersebut berlangsung setiap tahun.

Memang kita paham bahwa barang pertanian merupakan barang yang cepat rusak dan penyediaannya perlu waktu lama. Akibat cepat rusak ini (sayur dan buah) petani tidak bisa menyimpannya pada saat harga rendah. Yaitu saat penawaran berlimpah pada waktu panen. Sedangkan akibat dari butuh waktu lama dalam penyediaan (menunggu musim tanam), seolah memaksa pemerintah untuk melakukan impor guna penstabil harga disaat terjadi kelangkaan. Kalau tidak distabilkan tentu inflasi akan melambung.

Pemerintah dengan berbagai alasan mendukung kebijakan impor itu. Kalau sekali dua kali sih masyarakat awam seperti saya masih manggut-manggut. Tapi kalau itu menjadi agenda tiap tahun, bisa bikin geleng-geleng juga. Kenapa pemerintah tidak belajar dari pengalaman? Sehinggga petani yang terus-terusan dikorbankan. Bila ingin memperbaiki nasib petani, impor bukanlah solusi yang bagus. Pemerintah tidak perlu membuat petani miskin dulu baru memberikan santunan (dulu BLT).

Kita telaah dengan kebijakan impor beras misalnya. Seperti biasa dalih pemerintah untuk menstabilkan harga barang pokok ini dengan menggelontorkan beras impor di pasar domestik. Supaya garis penawaran bergeser ke kanan dan harga menjadi turun. Namun ada cara-cara yang lebih terhormat. Jangan ikuti mekanisme pasar. Pemerintah bisa membeli beras itu dari petani melalui Bulog atau Departemen Pertanian dengan harga pasar. Kemudian menjualnya lagi sesuai harga yang telah disubsidi. Nah petani sejahtera (beras dibeli dengan harga yang tidak terpengaruh penawaran dan permintaan), dan rakyat juga menikmati subsidi harga beras. Kemudian ditunjang lagi dengan program pembinaan petani agar bisa meningkatkan produksinya. Sehingga bisa tercapai surplus. Bila Fadel Muhammad saat masih menjabat Gubernur Gorontalo bisa meningkatkan produksi pertanian di daerahnya melalui berbagai terobosan bidang pertanian, tentu sangat mungkin provinsi lain untuk menirunya.

Pasti ada pertanyaan, "Kan beras memang bisa disimpan oleh Bulog, kalau hasil pertanian lain seperti cabe kan cepat rusak?" Untuk hasil pertanian yang tidak tahan lama seperti cabe ini, petani memang banyak dirugikan. Ya, karena mekanisme pasar ini. Bila dia segera menjual hasil panen, tentu harganya akan sangat murah. Karena pada waktu panen penawaran sedang berlimpah. Namun bila petani menahan barang itu lebih lama, dikhawatirkan akan busuk.Terus bagaimana? Ya, kita buat saja supaya tahan lebih lama. Cabe kan bisa diolah menjadi saus. Tentu bukan saus abal-abal yang tidak pedas. Tapi ini benar-benar saus asli dari cabai cuman lebih awet. Nah kalau begini kita kembali lagi pada terobosan di bidang teknologi pertanian dan pengolahannya. Berarti petani bisa sejahtera (penambahan nilai barang), pengangguran terserap (menciptakan lapangan kerja baru di bidang pengolahan), pendidikan dan teknologi meningkat.

Paparan di atas merupakan saat keadaan normal. Yaitu keadaan petani dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan pasar. Dalam kenyataan kegiatan pertanian tak bisa semulus itu terus. Banyak kemungkinan gagal panen. Dalam hal ini silakan pemerintah melakukan impor untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Namun jangan lupa untuk memberi bantuan berupa kompensasi kepada para petani itu.

NB: Referensi untuk lebih memahami pengaruh penawaran dan permintaan pada barang pertanian => http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2011/05/26/industrialisasi-sektor-pertanian/
Read more...

Labels

 
The Ledger © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here