Wednesday, 22 May 2013

Revitalisasi Pasar Tradisional Melalui Manajemen Berbasis Pariwisata

0 comments
 
Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
 
Sesuai dengan UUD 1945, Indonesia menganut sistem ekonomi kerakyatan. Artinya sumber daya yang dimiliki bangsa ini sudah selayaknya digunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat. Pasar tradisional punya peran sentral sebagai implementasi ekonomi kerakyatan ini. Peran sentral itu ditunjukkan dengan mampu mengakomodasi kebutuhan pemasaran para pelaku usaha kecil menengah. Sebagaimana kita ketahui, pelaku usaha kecil menengah adalah golongan mayoritas pelaku usaha di Indonesia. Konstribusi mereka di sektor riil tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain itu pasar tradisional punya resistensi yang kuat terhadap krisis ekonomi global. Hal itu karena pasar tradisional jarang punya hubungan langsung dengan negara yang terdampak krisis.
 
Namun sayangnya keberadaan pasar tradisional semakin tersisihkan oleh pasar modern. Padahal untuk beberapa barang, semisal hasil perkebunan, harga yang ditawarkan oleh pasar tradisional lebih murah. Realita itu menunjukkan perbedaan harga yang tidak terlalu signifikan tidak mempengaruhi pilihan konsumen. Penyebabnya bisa jadi semakin makmurnya penduduk Indonesia sehingga lebih memilih kenyamanan berbelanja dibanding selisih harga tadi. Pasar modern semisal mall dan toserba dikelola sedemikian rupa sehingga mampu memberi kenyamanan dalam berbelanja. Ruang yang bersih, sejuk, dan tertata rapi menjadikan pasar modern tersebut punya nilai tambah tersendiri di mata konsumen. Walau nantinya konsumen akan membayar lebih pada harga barang yang dibeli.
 
Pasar modern dikuasai hanya oleh segelintir orang pemilik modal besar saja. Sedangkan pasar tradisional adalah tempat bergantung banyak rakyat kecil dalam mencari uang. Bila keberadaan pasar tradisional semakin tersisihkan, niscaya rakyat kecillah yang akan menanggung dampak terbesarnya. Selama ini pemerintah sudah berusaha untuk memajukan pasar tradisional. Namun usaha yang dilakukan pemerintah hanya sebatas perbaikkan fisik bangunan pasar saja. Hal ini terkadang justru memberatkan pedagang karena biaya sewa kios akan naik. Seharusnya usaha pengembangan pasar tradisional lebih ditekankan pada perbaikkan manajemen bukan pada perbaikkan fisik semata.
 
Dalam usaha revitalisasi pasar tradisional, hal pertama yang perlu diperbaiki adalah sumber daya manusia. Para pengelola pasar harus punya integritas, profesionalisme, dan komitmen kuat untuk memajukan pasar tradisional. Langkah selanjutnya adalah perbaikkan manajemen operasional pasar. Manajemen operasional ini harus dilakukan secara terpadu di mana seluruh aspek manajemen terintegrasi dalam satu sistem. Misalnya manajemen sarana parkir harus terintegrasi dengan manajemen keuangan khususnya dalam hal pengelolaan pendapatan serta perencanaan pembiayaan operasional dan perawatan tempat parkir. Selanjutnya perlu dilakukan perbaikkan pada manajemen aset atau sarana-prasarana pasar. Pasar tradisional harus punya sarana pendukung yang mebuat pengunjung merasa nyaman. Semisal toilet yang bersih dan parkir yang memadai. Langkah terakhir adalah perbaikkan manajemen pemasaran dari pasar itu sendiri. Nah pembahasan manajemen pasar tradisional di tulisan ini akan lebih difokuskan pada manajemen marketing ini.
 
Pasar tradisional punya karakter yang kuat pada hubungan interpersonal. Interaksi sosial yang erat ini juga merupakan salah satu pembeda jelas dengan pasar modern. Berbelanja di pasar tradisional masih memungkinkan kegiatan tawar menawar harga barang. Berdasarkan karakter inilah konsep marketing pasar tradisional perlu dibuat. "A place for nature, human, and culture." Artinya pasar sebaiknya bukan hanya dijadikan sebagai pusat kegiatan ekonomi saja. Seharusnya pasar juga menjadi ruang publik yang memungkinkan interaksi sosial dan kegiatan wisata.
 
 
Untuk mewujudkan konsep pasar berbasis pariwisata ini perlu ada perubahan secara menyeluruh terhadap manajemen aset/sara yang selama ini melekat pada pasar tradisional. Bila stigma selama ini aset pasar tradisional lebih banyak berupa kios atau lapak permanen, maka pada konsep baru ini pengadaan aset lebih diutamakan untuk mendukung hiburan bagi pengunjung. Misalnya pembuatan taman hijau, taman bermain, dan panggung hiburan. Lapak untuk jualan tidak dibuat permanen tetapi bisa dibuat semacam gerobak dorong atau tenda yang bisa bisa dibongkar pasang. Panggung hiburan bisa digunakan sebagai sarana ekspresi seni pertunjukkan bagi masyarakat sekitar. Pada hari tertentu bisa juga diselenggarakan semacam festival dengan tema tertentu. Misal pada hari pahlawan para pedagang berpakaian layaknya pahlawan nasional. Lingkungan sekitar pasar pun dihias sedemikian rupa sehingga mendukung tema perjuangan para pahlawan. Pada intinya selain fungsi utama untuk kegiatan ekonomi pasar juga bisa diarahkan ke fungsi rekreatif. Dengan begitu diharapkan pengunjung pasar semakin bertambah.
 
Pasar tradisional yang tidak mau berubah seiring perubahan jaman, hanya akan tinggal kenangan dan menjadi penghias museum peradaban masa lalu bangsa ini. Terlepas dari sebesar apa pun kecintaan dan romantisme bangsa Indonesia pada hal yang merepresentasikan nilai-nilai tradisional ini. Tiada kata terlambat untuk memulai. Revitalisasi pasar tradisional harus didukung oleh semua pihak.

Leave a Reply

Labels

 
The Ledger © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here