Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Saturday, 14 April 2012

Sepenggal Kisah dari Panti Asuhan Kasih Bunda

3 comments

Martani begitulah orang tuanya memberi dia nama. Ya, cukup Martani saja. Tidak perlu ada tanda "*" (bintang kecil) yang menunjukkan syarat dan ketentuan berlaku seperti di iklan-iklan. Nama yang menunjukkan harapan orang tuanya supaya kelak dia jadi seorang pendidik.

Tidak berlebihan jika orang tua Martani sangat berharap pada sosok anak lelakinya ini. Dia anak tunggal dari keluarga yang mengelola sebuah panti asuhan. Walau mengelola sebuah panti, namun tidak bisa dikatakan jika keluarga Martani adalah keluarga yang berlebih.
Mereka hidup pas-pasan sambil terus berusaha mempertahankan kegiatan operasional panti tersebut.

Sejak membaca suatu buku di perpustakaan SMA Wetan Kulon, Martani terlihat galau tiap mendapat giliran mengasuh anak-anak di panti. Yang jelas bukan kegalauan yang ramai disebut-sebut para remaja seusianya. Wajar Martani tidak tertarik membaca novel romansa di perpustakaan. Dia lebih suka mebaca buku-buku tentang pola asuh anak di berbagai kebudayaan dan kondisi sosial masyarakat. Bekal untuk memajukan metode pengasuhan anak di panti asuhan yang kelak akan diwarisinya.

Panti asuhan Kasih Bunda, merawat 13 anak kecil yang mempunyai rentang usia 2-6 tahun.

Perlu strategi khusus nan kompleks menghadapi anak-anak seusia itu. Mungkin saja suatu saat salah satu dari anak-anak itu terjatuh sendiri saat bermain kejar-kejaran, apa yang akan kamu lakukan?
Si A menolong si anak sambil berkata, "Sudah dibilang jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!"
Si B menolong si anak sambil berkata, "Idih batunya nakal ya! Sini kakak balaskan."
Si C menolong si anak sambil berkata, "Hmm nggak apa-apa, nggak sakitkan, Cuma segitu."
Si D diam saja hanya mengulurkan tangannya, membiarkan si anak berusaha bangkit sendiri untuk menggapai lengan si D.

Mungkin apa yang dilakukan A, B, C, D itu kamu anggap biasa atau bahkan kamu juga pernah mempraktekkannya. Respon yang wajar dan umum dijumpai dalam masyarakat. Namun tidak demikian dengan Martani. Karena dia beberapa kali membaca buku tentang pola asuh anak, Martani jadi mengerti bahwa tiap perkataan dan tingkah laku yang ditujukan pada anak-anak akan berpengaruh sangat besar bagi perkembangan anak tersebut.

Menurut pengamatan dan analisis Martani dari hasil baca-baca di perpustakaan keempat kasus tadi bisa menyebabkan hal berikut.
Pada kasus si A, anak akan belajar menganggap dirinya selalu bersalah dalam kehidupannya. Lama-kelamaan anak akan takut mencoba melakukan sesuatu, karena tiap kali gagal selalu disalahkan. Kepercayaan dirinya pun tidak bisa muncul.
Pada kasus si B, anak akan belajar menyalahkan kondisi sekitarnya sebagai pembenaran atas dirinya sendiri saat menghadapi kegagalan. Anak tidak mau instropeksi dan cenderung mau menang sendiri.
Pada kasus si C, memang ini bertujuan membuat supaya anak tidak cengeng. Namun dalam taraf tertentu hati anak akan menjadi keras. Anak akan memandang kesulitan orang lain dengan sesuatu yang sepele. Anak akan menjadi tidak peka dengan kesusahan yang dialami orang lain. Tentu orang tua mana pun tidak mau anaknya tidak peka saat mereka sudah tua nan sakit-sakitan.
Pada kasus si D, memang bertujuan supaya anak menjadi mandiri. Tidak tergantung pada orang lain dan bisa bangkit sendiri dalam menghadapi masalah. Namun hampir sama dengan kasus si C, pada taraf tertentu sikap individual anak akan meningkat. Anak akan belajar berpikir urusanmu ya urusanmu, sedangkan urusanku ya urusanku.

Martani yang masih duduk di bangku sma galau bukan kepalang memikirkan apa yang akan dilakukannya dalam mengasuh para adik-adiknya di panti. Di tengah renungan galau yang mencapai asik-asiknya, tiba-tiba terdengar bunyi gedebuk di ruang tamu. Angga, anak asuh yang berusia 5 tahun terjatuh. Sikunya lecet dan memar. Belum juga menemukan jawaban dari pertanyaan yang tadi menggelayuti, Martani sudah dihadapkan dengan peristiwa nyata.

Akhirnya Martani memilih menggunakan metodenya sendiri, bukan metode paten yang sudah teruji secara ilmiah di debat parenting west vs east sih. Tapi paling tidak dia menuruti hati nuraninya dan menggunakan nilai yang dia peroleh dari orang tuanya. Warisan kebudayaan sendiri. Martani segera menghampiri Angga.
Martani sambil tersenyum dan memegang pundak Angga, "mana yang sakit?"

Angga masih menangis terisak, "lutut kak."
Martani segera mengambil plester luka dan menempelkannya di luka Angga setelah lebih dulu dibersihkan.
Kemudian Martani berkata, "Nah sudah kakak obati. Tapi tidak bisa dipakai main gobak sodor dulu ya. Andini, Chandra, Nesti karena Angga belum bisa berlari jadi ayo main tebak-tebakan nama bendera negara. Seperti biasa kakak jurinya."

Martani mencoba mengalihkan perhatian Angga dari rasa sakitnya dengan mengajaknya melakukan permainan menyenangkan lain. Baginya selalu ada untuk anak-anak adalah hal yang harus dilakukan. Mereka butuh kasih sayang. Mungkin sebagian pendapat akan mengatakan bahwa hal ini akan membuat mereka tidak mandiri. Tapi Martani tidak peduli, dia akan selalu bersikap sebagai teman sebaya, kakak, sekaligus guru bagi anak-anak itu. Mungkin Martani tidak menjadi sosok "sempurna" dalam menjalankan tiga perannya itu, namun dia akan terus mencoba supaya bisa menjadi sosok yang "terus berusaha" demi anak-anak itu. Dia juga percaya kemandirian tidak hanya bisa dilatih saat anak mengalami kecelakaan seperti ini saja. Justru kemandirian saat sehat seperti mampu merapikan tempat tidur sendiri, mampu gosok gigi dan memakai baju sendiri akan lebih efektif membentuk karakter kepribadian anak-anak ini. Dalam hening setelah tangis reda sedari diobati  tadi  Angga berkata, "Iya kak, kalau nggak merasakan sakit kan kita nggak tahu nikmatnya sehat."
Read more...
Friday, 13 April 2012

Curcol Kisah Cinta Dosen

0 comments


Dari perawakannya, beliau nampak sebagai lelaki berumur 55 tahun lebih.
Namun kalau melihat semangat dan keceriaannya, tak kalah deh sama mahasiswanya.
Dosen Akuntansi Pemerintahan ini tak suka bila disebut sedang memberikan kuliah.
"Sekarang ini bukan kuliah, tapi silaturrahmi", ujar beliau pada sesi tatap muka pertama. Menurut beliau silaturrahmi itu bisa memperpanjang umur. Akhirnya ketua kelaslah yang mendapat tugas mengingatkan agenda silaturrahmi pak dosen ini setiap akhir pekan. (-.-')a

Karena menurut beliau akuntansi itu mudah, debit-kredit doang, maka beliau lebih suka membagi pengalamannya dibanding membahas buku. Dulu beliau kuliah di suatu kampus di daerah Bintaro. Sudah menjadi rahasia umum bila di kampus itu rasio wanita dibanding prianya sangat timpang. Persaingannya ketat bila ditilik dari statistik. Tapi bukan karena itu beliau memilih untuk mencari calon dari kampus lain.
Kata beliau, "Anak akuntansi selalu berhitung laba-rugi." Oleh karena itu pak dosen muda tidak mencoba cari dari kampus sendiri. Yah kayaknya alasan beliau doang untuk ngeles nggak laku di kandang sendiri. Ternyata beliau menaruh hati pada gadis jurusan sastra kampus sebelah.

Andai jaman dulu ada twitter, pasti twit line dosen muda ini dipenuhi twit-twit galau. Nggak bisa bayangin pak dosen yang rambutnya disemir alami warna putih ini nulis :
"Andai kamu pendapatan, aku rela jadi beban. Agar tiap periode kita selalu disandingkan #NoMention"
"Pencatatan jurnal itu menggunakan double entry. Aku berharap namaku dan namamu yang mengisi jurnal-jurnal cinta itu #NoMention", ....dst.
Nggak usah dibayangin lagi deh. Dulu adanya surat menyurat, ngak lucu jugakan nulis surat untuk #NoMention. Terus bagaimana pak pos mau ngirim suratnya?

Setelah mengumpulkan segenap keberanian pak dosen muda memutuskan untuk menyatakan perasaannya. Kertas warna merah muda dibeli. Kentara banget kalau kebanyakan nonton film, termakan sugesti warna pink itu warna cinta. Padahal kata pepatah cinta itu buta. Terus ngapain juga pakai pilih-pilih warna segala. hehe
Oke surat telah jadi. Dibungkus amplop pink juga, disemprot dulu pakai parfum biar wangi. Tinggal dititipin ke kenalan si wanita idaman. Pak dosen menunggu laporan tukang pos dadakan sambil nongkrong di daerah gerbang kampus. Beberapa jam berlalu si pengirim surat akhirnya nongol juga. Langsung membawa surat balasan.
"Goz, ini balasan suratmu", kata si penghubung.
Pak dosen muda tak menyangka surat pernyataan cintanya langsung mendapat balasan secepat itu. Sebenarnya dia cuman berharap si penghubung memberi laporan bahwa suratnya telah sampai doang. Nggak perlu balasan secepat ini. Hati dosen muda dag dig dug tak menentu. Terlalu gerogi dia untuk melihat surat balasan itu.

"Ini ambil! Jangan bengong oi", sahut si pengantar surat membuyarkan kegalauan pak dosen muda.
"Ini kan amplop suratku tadi, kok dikembalikan"
Pak dosen muda heran suratnya dikembalikan lagi. Amplopnya sudah tidak tersegel, pertanda surat itu sudah dibuka.
"Balasan suratmu ada di dalam, aku pergi duluan ya", kata si penghubung sambil berlalu.
dag dig dug...
Diterima nggak ya??
dag dig dug...
Tangan dosen muda bergetar ringan, seolah ada gempa lokal 4 Richter.
dag dig dug...
Amplop mulai dibuka. Masih kertas yang sama.
"Ieu mah susuratan aing tadi", keluar logat asli dosen muda karena terkejut.
Pikirannya kosong sejenak. Diambil kertas pink yang masih tercium wangi mawar itu, amplop sudah tercampakan ke tanah. Ada coretan-coretan segar, jawaban atas perasaan dosen muda kah? Ada tambahan tulisan besar yang dilingkari.
"Belajar EYD lagi ya!"
Ternyata surat dosen muda dikoreksi habis-habisan oleh mahasiswi jurusan sastra Indonesia pujaannya itu.
Sebenarnya masalah EYD bukan perhatian utama anak sastra itu.
Tapi karena kesalahan dosen yang terlalu mendasar, menulis "di hatiku" menjadi "dihatiku", mengeja "kegundahan" menjadi "ke gundahan", "siapa pun" menjadi "siapapun", dll. maka dosen muda mendapat peringatan yang cukup menyakitkan. Disuruh mengulang pelajaran EYD lagi semasa SMA. Selain itu ada tulisan yang kesemuanya ditulis dengan huruf kapital.
"BACA KARYA KAHLIL GIBRAN, KEINDAHAN TULISANNYA MEMUKAU"
Kalimat per kalimat dosen muda mendapat koreksi bagaimana seharusnya tulisan yang indah itu. Keindahan dari segi sastra. Cara penolakan yang cukup nyesek. Gontai, dosen muda pun berjalan pulang.

Sedih karena ditolak itu cukup 3 hari saja. Kalau bisa sih kurang dari itu. Cinta itu seperti sillaturrahmi, jadi kalau silaturrahmi putus saja maksimal 3 hari untuk menyambungnya kembali. Demikian pula kalau cinta ditolak, cukup 3 hari untuk pulihkan diri. Prinsip itulah yang dipegang dosen muda. Sok bijak dia menasihati dirinya sendiri.
Mengapa harus sedih kalau dia menolakku?
Aku hanya kehilangan orang yang tidak pernah mencintaiku,
tapi dia kehilangan orang yang sangat mencintainya.
Dia kehilangan orang yang mau berbuat apa saja
hanya untuk sebuah senyum di wajahnya.

Dia kapok mendekati anak jurusan sastra. Menurut pak dosen, anak sastra itu selalu tidak puas akan keindahan. Perjalanan hidup pak dosen muda terus berlanjut. Takdir membuatnya bertemu dengan seorang mahasiswi jurusan ilmu pasti. Tampaknya mereka berdua saling cocok. Paling nggak jurusan ilmu pasti cintanya penuh kepastian. Seperti hukum Newton III, dimana ada aksi di situ ada reaksi. Cinta itu dua arah, saling memberi dan menerima. Sekarang beliau telah menikah dengan wanita dari jurusan ilmu pasti itu. Hidup bahagia, semoga semoga selalu bahagia.
----------------------------------------------------------------------------------
Begitulah curcol dosen pada suatu sesi kuliah kelas kami, 2"beep" Akuntansi. Bukan berarti penulis menganjurkan untuk meniru dosen ini dalam hal berpacaran. Namun ada nasihat lain yang bisa diambil. Khususnya bagi teman-teman yang mungkin memilih untuk berpacaran dulu. Tolonglah jangan bertindak annoying  mengumbar masalah kalian di media umum. Semua orang pasti punya masalah, yang membedakan kualitasnya adalah bagaimana orang itu menyelesaikan masalahnya. Dengan mengumbar masalah hubungan kalian tidak akan pernah ada kemajuan dalam pemecahan masalah itu. Banyak negatifnya lah bersikap kayak gitu. Kalau memang perlu bantuan atau nasihat dalam menyelesaikan masalah, ya bilang aja ke orang tertentu. Jangan ditulis di status atau twit seakan minta belas kasihan dunia. Tapi percayalah, ujung jalan keluar dari masalahmu tergantung pada dirimu sendiri. Orang lain hanya pengiring, sebagai peran pembantu. 
Read more...

Mentari pada Bumi

0 comments

Siang panas makin memanas karena harap-harap cemas.
Cemas, galau, deg-degan, apa aja deh menunggu giliran eksekusi.
Sang eksekutor tak lain dosen kami, Pak Sukasdi.
Jika kau terbiasa bepikir sebelum melangkah.
Khusus di ruangan ini sebaiknya kau berpikir seribu kali sebelum bertitah. (baca: berbicara)
Mungkin Pak Sukasdi masa mudanya bercita-cita jadi editor namun tak kesampaian.
Akhirnya tiap perkataan kamilah yang jadi bahan suntingan beliau.
Semoga saja tulisan ini tidak pernah dibaca  beliau, karena pasti banyak susunan kata yang mengkudeta EYD.

"Iya, Mas di belakang yang pakai baju telur asin"

Wad Dafuuuuuu.... Telor asin.
Kayaknya tidak ada yang memakai baju biru muda selain aku.
Sial, pasti kebagian kena pertanyaan ini.

"Apa perbedaan 'mencinta' dengan 'mencintai'?"

Asian level! Hanya beda "i" tapi kalau yang menanyakan Pak Sukasdi ada aura tekanan akademis penuh misteri.
Beliau mempertanyakan "i" mungkin karena nama beliau SUKASDI = Suka Sekali Dengan I. #Jelas itu ngarang doang
Sekenanya saja kujawab "mencinta" adalah suatu kata kerja diawali imbuhan "me-" yang merupakan pembentuk kata kerja aktif untuk menyatakan kegiatan cinta (aktif) tanpa butuh objek, secara sederhana diartikan melakukan cinta.
Sedangkan "mencintai" adalah suatu evolusi dari kata "mencinta" yang kini telah menemukan pasangannya sehingga kini ada objek untuk diberi cinta itu sendiri, secara sederhana diartikan memberikan cinta kepada titik-titik.
Abstrak? Iya, Aku pun sebenarnya bingung dengan yang aku omongkan. Problem?

"Mas, bedanya kan cuma di huruf "i". Kenapa panjang-panjang jawabnya?"

Ketika kita panjang lebar menjelaskan namun dosen memberikan jawaban yang anak sd pun tahu itu, serasa naik paus akrobatik kemudian meluncur ke langit. Pas sampai langit ada burung garuda ditunggangi pangeran, sang pangeran bertarung dengan monster naga. Paus pun jadi penonton setia sinetron laga di Indo*si*ar itu. #Ah maaf ngelantur, kadang nonton juga sih

"Bahasa yang Mas gunakan untuk menerangkan perbedaan dua kata itu adalah bahasa kamus."
"Coba gunakan bahasa sastra untuk menerangkan perbedaannya!"

Karena waktu kuliah sudah habis, akhirnya pertanyaan itu dijadikan tugas untukku.
Meniru gaya pemain bola setelah berhasil cetak gol, aku  langsung buka baju kuliah.
Sementara di dalamnya ada kaos putih polos denga tulisan  "Why always me!".
Bukan selebrasi bahagia, tapi protes kenapa aku dibrondong rentetan pertanyaan seperti itu coba.
Untuk menuangkan ke dalam bahasa satra itu tak semudah membalik kartu UNO waktu main di Sevel.
Perlu perasaan tersendiri yang tercurahkan saat kita pernah atau sedang mengalami peristiwa itu.

Di antara ribuan kata di kamus kenapa harus kata dasar itu? C.I.N.T.A
Sebagai manusia usia tanggung, dewasa belum tapi juga nggak bisa lagi disebut remaja.
Pertama kali yang terlintas di alam bawah sadar tiap dengar kata C.I.N.T.A  pastilah cinta dengan lawan jenis.
Cinta antara laki-laki dengan perempuan. Walaupun saat awal-awal masuk kampus sempat dibuat horor dengan banyaknya isu cinta sejenis. Sstt.. Cukup untuk konsumsi internal.
Jangan sampai nyebar lagi gurauan bahwa 50% Mahasiswa di sini Maho, sisanya?? Pasangannya!! @#$$%$#

Ada teman yang menyarankan untuk nonton film-film drama korea.
Supaya nanti bisa dapat feel membuat tulisan bahasa satra tentang C.I.N.T.A. Boleh juga tuh ide dia.
Wow, si teman yang kena sindrom Koreanefelter akut ini punya koleksi lengkap berbagai pernak-pernik korea.
Film koreanya saja hardisk satu terra tak muat. Padahal wajah tulen Jawa, tapi kok ya fanatik banget Korea.
Biarlah krisis identitas itu masalah dia yang penting sekarang udah dapat beberapa film rekomendasi.

Memang secara kualitas drama Korea jauh lebih baik dibanding tayangan shi*netron di tanah air.
Pada drama Korea karakter tokoh tidak monoton dan susah ditebak. Tidak 100% protagonis atau pun antagonis.
Tokoh protagonis bukannya tanpa cela namun juga diekspose sisi negatif juga.
Semisal biasanya mereka tengil, emosional, labil, namun sebenarnya bisa bersikap hangat  dan peduli.
Beda dengan shi*netron tanah air, seorang tokoh protagonis pasti selalu digambarkan terlalu baik.
Bahkan saking baiknya berkali-kali dijahati tokoh antagonis tetap saja bersikap iklas dan memberikan senyuman maaf, tanpa pernah melakukan perlawanan berarti. Sisi negatif yang manusiawi tidak pernah diekspose, seorang tokoh hanya digambarkan pada dua kondisi ekstrim, kalau tidak malaikat ya setan.
Itu baru dari segi penokohan. Dari segi alur shi*netron kita kalah telak dalam hal kreatifitas.
Mungkin karena hanya mengejar rating hingga alurnya makin dipanjang-panjangin.
Tidak sesuai proporsi awal, masak sampai cucu cicit dari tokoh utama diceritakan juga.
Mulai deh melenceng lagi. Malah sekarang sok jadi jadi kritikus film.

Secara pribadi aku akui memang film drama Korea pandai dalam memainkan emosi penonton.
Kenapa?? Karena kita dibuai dalam berbagai kisah yang mungkin sulit kita temui di kehidupan nyata pribadi kita.
Jadi, bangun oi itu film. Jangan baui hidupmu dengan khayalan dari cerita. Kita hidup dalam dunia realita.Berkhayal dan bercita-cita itu beda jauh lho. 
Berharap itu harus, namun tetap pada harapan yang bisa langsung kita ambil aksi untuk wujudkan dalam kehidupan nyata. Bukan hanya harapan yang membuat kita menunggu tanpa kejelasan dan tanpa bisa berbuat apa pun.

Untuk membuat tulisan tentang C.I.N.T.A, tugas dari Pak Sukasdi, aku butuh sesuatu yang lebih nyata.
Sesuatu yang bisa kurasakan langsung. Bukan cuma angan-angan melankolik semata.
Ah tapi bagaimana cara lain supaya lebih mengerti?
Lagian juga minim pengalaman tentang masalah begituan.
Ah di masa penuh tekanan ini aku butuh keluargaku, terutama Ibuku.
Ibu selalu ada sebagai tempatku berbagi.
Ibu tak perlah lelah peduli padaku, mendukungku, dan memberikan nasihat-nasihat juga.
Tiada cinta setulus cinta Ibu. Eh tungu-tunggu, barusan kita ngomongin tentang C.I.N.T.A kan??
Wow ini dia yang aku cari, realita cinta yang murni.
Aku bisa belajar dari cara Ibu mencintaiku yang kemudian kugunakan untuk mencinta (tanpa "i" artinya belum ada objek). Yeah, perlahan tapi pasti  belajar dan belajar. Belajar mencinta setulus Ibu.  


                                                                                                                     14 Februari 2011
                                                              Tugas Bahasa Indonesia
Nama    : Ksatria Berbaju Telor Asin
Kelas     : Bulu
No. Urut : 01 

---------------------
Mentari pada bumi-------
Tiada rumus  terima-beri--
Petang terang silih berganti------------
Sinar itu senatiasa cairkan beku hati--
Hujan reda mendistorsi sinar pelangi--
Seputih terurai warna-warni-----------
Orbit Πr2 tak bersudut mati--
Mentari pada bumi----------
----------------------
Read more...

Labels

 
The Ledger © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here