Wednesday, 22 May 2013

Revitalisasi Pasar Tradisional Melalui Manajemen Berbasis Pariwisata

0 comments
 
Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Read more...
Sunday, 17 March 2013

1. Senja Pertama Karimunjawa

0 comments

Sore itu serasa di dalam lukisan seorang maestro. Perpaduan merah, kuning, biru tua yang serasi. Gradasi warna jingga di riak gelombang laut. Gulungan keemasan awan yang mulai diterkam kegelapan. Yang menyadarkanku bahwa ini bukan lukisan adalah angin ini. Bukan lagi sekadar angin yang sepoi-sepoi. Melainkan angin laut yang berhembus kencang menerjang pulau kecil di utara Jawa, Karimunjawa.

Para pemancing di dermaga sudah beranjak pulang. Menjawab sayup kumandang adzan surau kecil di sana. Senyum tipis gembira membawa hasil tangkapan. Laut sedang berbaik hati pada mereka. Tiada alasan lagi bagiku untuk tetap bergeming di dermaga. Dingin angin laut tidak bersahabat padaku yang pendatang ini. Secara fisik dingin ini tidak sebanding dengan AC ruang kelas di Jakarta. Tapi entah kenapa dingin ini lebih terasa menyiksa. Seolah karimunjawa bersikap tak acuh kepadaku. Bersikap dingin melalui tamparan angin pada anak lelaki yang tersesat oleh cita-citanya. Saat itu kesan pertamaku, aku tidak diterima.

Para orang tua menggandeng anak mereka pergi ke surau. Suatu harmoni cinta dalam keluarga yang terpancar. Ayat-ayat Tuhan terlantun syahdu dari surau. Menentramkan hati setiap pendengarnya. Senyum penduduk terpancar ramah kepada kami para pendatang. Kami menunaikan ibadah bersama, bersimpuh kepada Tuhan Yang Maha Esa. Belakangan aku menyadari bahwa sebenarnya Karimunjawa menerima hangat siapa saja yang datang padanya. Hanya saja pendatang yang datang sendiri seperti aku sering mengalami syndrome. Syndrome terasing di tempat baru dengan suasana sunyi dan syahdu. Pada suasana seperti ini kerinduan kita akan rumah akan bertambah beberapa kali lipat. Kenangan-kenangan bersama keluarga mengalir dalam memori otak. Sehingga kita akan tergiring pada perasaan, "Tempatku bukan di sini, seharusnya aku ngobrol santai bersama keluarga di rumah."

Bulan terlihat cantik malam itu. Mengenakan gaun putih terang bercahaya bahkan mutiara iri kepadanya. Dia tiada malu menampakkan paras utuhnya. Menerangi kami para pendatang yang tanpa dikomando berkumpul di suatu tanah lapang. Lapangan bola yang disebut oleh penduduk sana sebagai Alun-alun kota Karimunjawa. Jaraknya sekitar satu kilometer dari dermaga. Pada malam hari alun-alun itu ramai oleh pendatang. Baik turis lokal maupun mancanegara. Semua berbaur menikmati sunyi malam dan indahnya wajah bulan. Tiada lengkap mengunjungi Karimunjawa bila belum makan malam di alun-alun. Makanan khas cita rasa Karimunjawa banyak dijual oleh penduduk asli di sana. Makanan paling menonjol adalah aneka seafood segar yang ditangkap pagi harinya. Ada beberapa makanan yang biasa dijumpai di Jawa seperti pecel, nasi goreng, dan sate. Namun andalan penduduk sini tetap pada cita rasa seafood segarnya. Ada minuman unik yang terbuat dari kelapa muda. Kelapa muda yang masih utuh kulitnya dipanggang di bara api. Kemudian diberi madu dan susu dan disajikan secara utuh bersama kulitnya. Jadilah minuman kelapa muda hangat campur madu dan susu. Sangat pas sebagai penghangat badan dari dinginnya angin malam yang berhembus kencang.

Bahasa tarzan lebih sering terjadi saat interaksi kaum pribumi dengan para pendatang berkulit putih terang. Penduduk Karimunjawa memang belum terlalu fasih menggunakan bahasa internasional. Namun hal itu tiada menjadi penghalang kegiatan sosial lintas negara ini. Alunan musik teralun dari pemutar musik digital salah satu kumpulan. Kalau tidak dari Eropa ya Amerika. Mereka bernyanyi semarak. Membuat semua kumpulan yang berada di alun-alun tersentak. Kami bernyanyi bersama:

Let me take you far away. You'd like a holiday
Let me take you far away. You'd like a holiday
.......
Longing for the sun, you will come
To the island without name
Longing for the sun be welcome
On the island many miles away from home

Saat itu aku sudah membaur dengan rombongan dari Universitas Sebelas Maret. Untung mereka mengajakku untuk bergabung di rombongan backpacker mereka. Sehingga sekarang kami menjadi satu tim terdiri dari lima lelaki dan 2 perempuan. Tak ingin kalah dari orang luar negeri, kami juga ingin menyumbangkan sebuah lagu. Akhirnya pilihan jatuh ke campursari karena sebagian besar memang berasal dari Solo.

Yo konco ning nggisik gembiro. Alerap lerap banyune segoro
Angliyak numpak prau layar. Ing dino minggu keh pariwisoto
Galo praune wis nengah. Byak byuk byak banyu binelah
Ora jemu jemu karo mesem ngguyu
Ngilangake roso lungkrah lesu

Makan malam hari itu akan menjadi salah satu makan malam yang paling berkesan dalam hidupku. Pada saat itu juga aku berujar janji dalam hati bahwa suatu saat aku pasti kembali. Suatu saat nanti, saat sendiri bukan lagi opsi. Menikmati senja nan indah Karimunjawa. Surau yang menentramkan dengan alunan ayat suciNya. Makan malam di bawah benderang purnama penuh romansa.
Read more...
Tuesday, 12 March 2013

AADC (Ada Apa dengan Cita)

0 comments
Kalau ditanya tentang cita-cita kebanyakan anak kecil akan menjawab ingin jadi presiden, dokter, pilot, insinyur, guru, polisi dll. Kesemuanya punya satu kesamaan yaitu jawaban dari pertanyaan "siapa". Siapa di sini akan merujuk pada sosok perorangan yang bisa digolongkan sebagai kata benda. Biasanya sosok perorangan ini merupakan sosok yang dihormati, dikagumi, dipandang tinggi baik karena materi atau jabatan oleh sosial. 
Sayangnya penentuan cita-cita berdasarkan jawaban dari pertanyaan "siapa" ini hanya akan mempersempit potensi kita. Mungkin saat masih kecil hal itu belum terasa. Namun sering waktu berjalan pergumulan idealisme vs realistisisme sangat mungkin terjadi.

Misal saja ada seorang anak yang ingin menjadi dokter ketika masih kecil. Sekarang si anak telah tumbuh dewasa menjadi wanita yang jelita. Wanita ini telah menyelesaikan pendidikan modelling dan kini bekerja sebagai model. Dulu dia tidak bisa masuk ke pendidikan kedokteran karena biaya yang tidak mencukupi. Selain itu kemampuan akademis dia juga biasa saja sehingga susah cari beasiswa. Dia memang masih bercita-cita jadi dokter. Namun kini usianya sudah memasuki waktu untuk berkeluarga. Bisa saja dia menggunakan uang hasil profesi modelnya untuk mendaftar di lembaga pendidikan kedokteran yang passing grade-nya rendah. Bila kamu ada di posisi wanita ini apa yang akan kamu lakukan??

Idealisme memang sangat penting. Tanpa idealisme kita bagaikan tersesat di tengah labirin tanpa GPS. Sulit cari pegangan saat kebingungan. Permasalahannya kita sebagai manusia biasa tempat salah dan lupa (khilaf). Tidak selamanya idealisme yang kita pegang merupakan solusi terbaik bagi hidup kita. Harus ada pertimbangan berdasarkan realita terkini. Padahal selama ini idealis dan realistis secara umum dianggap sebagai kutub berlawanan. Untuk itu kita perlu berpikir di luar umum bahwa idealis dan realistis sangat mungkin untuk dipertemukan bahkan dijodohkan. Seperti kata pepatah arab: khoirul umuuri ausatuha. Sebaik-baik perkara adalah di tengahnya. Artinya idealisme kita jangan jadi idealisme buta dan tuli. Realita sekitar pada suatu waktu juga harus diperhatikan. Kelemahan fatal dalam mendukung idealisme cita-cita sebagai jawaban pertanyaan "siapa" adalah kurang fleksible dalam perubahan realita. Seperti wanita tadi dengan realita seperti itu akan lebih baik bila dia melepas idealisme cita-citanya sebagai dokter.

Berbeda jika konsep cita-cita yang ditanamkan semenjak kecil merupakan jawaban dari "Bagaimana".
Bagaimana kamu ingin menjalani hidup ini?
Jalani hidupmu secara menyenangkan tanpa terbebani status sebagai "seseorang". Tidak peduli jadi apa saja, mau jadi artis, penjual gorengan, dokter, tentara yang penting kamu merasa senang. Bahagia menjadi hidup itu tidak tergantung profesi menjadi "siapa". Presiden pun punya berbagai permasalahan politik dan kenegaraan. Pengamen walau hidupnya lebih longgar dia juga terbelit permasalahan finansial. Sungguh sayang hidup yang sebentar ini jika cita-citamu kamu gantungkan ke jadi "siapa".

Sekarang coba kita ubah konsep cita-cita dari "siapa" menjadi "bagaimana". Misal wanita jelita yang yang jadi model tadi. Kita ubah konsep cita-citanya dari "dokter" menjadi "ingin membantu pengobatan orang sakit yang tidak mampu". Secara realistis wanita tadi dalam posisi yang kurang mendukung untuk meneruskan cita-cita sebagai dokter. Namun bila idealisme cita-citanya adalah "ingin membantu pengobatan orang sakit yang tidak mampu" maka realita kondisinya saat ini tidak akan mengganggu idealismenya. Sebagai model pun dia tetap bisa berkarya dalam mewujudkan cita-citanya. Bisa saja dia menggagas suatu acara amal lelang busana mode dari suatu rumah mode kenalannya. Hasil lelang itu kemudian digunakan untuk dana pengobatan gratis masyarakat tidak mampu. Kemudian dia bisa membentuk suatu organisasi yang anggotanya model dan desainer untuk membuat klinik khusus orang yang tidak mampu. Organisasi ini mengumpulkan donasi dari sponsor dan membentuk duta model dunia untuk mengkampanyekan pentingnya berbagi kepada sesama. Duta model itu dipilih dalam suatu kontes mirip Miss Universe gitu, yang anggotanya model-model perwakilan tiap negara. Kontesnya ya seputar mode andalan dari para desainer tiap negara. Melalui berbagai kegiatan itu dana operasi klinik disokong. Nah dengan begitu cita-cita wanita jelita tadi bisa tercapai. Bahkan dia bisa membuat inisiatif kegiatan yang mengembangkan dunia mode. Itulah kekuatan "bagaimana".

Oh ya satu yang hampir kelupaan. Suatu rumus bagaimana untuk menjalani hidup dengan bahagia. Bila kita mau merenung sebenarnya bahagia itu lebih mudah didapat dengan membahagiakan orang lain. Istilah lainnya adalah khoirun naasi anfa'uhum linnaasi. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Coba bayangkan bahagia mana bila kamu makan bakso 5 mangkok sendirian atau berbagi ke pengemis yang mungkin jarang makan bakso. Melihat wajah gembira mereka, menerima ucapan terima kasih mereka, menerima doa baik dari mereka. Sungguh kebahagiaan memberi 5 mangkok bakso dari penjual keliling ke pengemis itu lebih nikmat dibanding makan bermangkok bakso di restoran mahal sekalipun.
Read more...

Labels

 
The Ledger © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here