Sore itu serasa di dalam lukisan seorang maestro. Perpaduan merah, kuning, biru tua yang serasi. Gradasi warna jingga di riak gelombang laut. Gulungan keemasan awan yang mulai diterkam kegelapan. Yang menyadarkanku bahwa ini bukan lukisan adalah angin ini. Bukan lagi sekadar angin yang sepoi-sepoi. Melainkan angin laut yang berhembus kencang menerjang pulau kecil di utara Jawa, Karimunjawa.
Para pemancing di dermaga sudah beranjak pulang. Menjawab sayup kumandang adzan surau kecil di sana. Senyum tipis gembira membawa hasil tangkapan. Laut sedang berbaik hati pada mereka. Tiada alasan lagi bagiku untuk tetap bergeming di dermaga. Dingin angin laut tidak bersahabat padaku yang pendatang ini. Secara fisik dingin ini tidak sebanding dengan AC ruang kelas di Jakarta. Tapi entah kenapa dingin ini lebih terasa menyiksa. Seolah karimunjawa bersikap tak acuh kepadaku. Bersikap dingin melalui tamparan angin pada anak lelaki yang tersesat oleh cita-citanya. Saat itu kesan pertamaku, aku tidak diterima.
Para orang tua menggandeng anak mereka pergi ke surau. Suatu harmoni cinta dalam keluarga yang terpancar. Ayat-ayat Tuhan terlantun syahdu dari surau. Menentramkan hati setiap pendengarnya. Senyum penduduk terpancar ramah kepada kami para pendatang. Kami menunaikan ibadah bersama, bersimpuh kepada Tuhan Yang Maha Esa. Belakangan aku menyadari bahwa sebenarnya Karimunjawa menerima hangat siapa saja yang datang padanya. Hanya saja pendatang yang datang sendiri seperti aku sering mengalami syndrome. Syndrome terasing di tempat baru dengan suasana sunyi dan syahdu. Pada suasana seperti ini kerinduan kita akan rumah akan bertambah beberapa kali lipat. Kenangan-kenangan bersama keluarga mengalir dalam memori otak. Sehingga kita akan tergiring pada perasaan, "Tempatku bukan di sini, seharusnya aku ngobrol santai bersama keluarga di rumah."
Bulan terlihat cantik malam itu. Mengenakan gaun putih terang bercahaya bahkan mutiara iri kepadanya. Dia tiada malu menampakkan paras utuhnya. Menerangi kami para pendatang yang tanpa dikomando berkumpul di suatu tanah lapang. Lapangan bola yang disebut oleh penduduk sana sebagai Alun-alun kota Karimunjawa. Jaraknya sekitar satu kilometer dari dermaga. Pada malam hari alun-alun itu ramai oleh pendatang. Baik turis lokal maupun mancanegara. Semua berbaur menikmati sunyi malam dan indahnya wajah bulan. Tiada lengkap mengunjungi Karimunjawa bila belum makan malam di alun-alun. Makanan khas cita rasa Karimunjawa banyak dijual oleh penduduk asli di sana. Makanan paling menonjol adalah aneka seafood segar yang ditangkap pagi harinya. Ada beberapa makanan yang biasa dijumpai di Jawa seperti pecel, nasi goreng, dan sate. Namun andalan penduduk sini tetap pada cita rasa seafood segarnya. Ada minuman unik yang terbuat dari kelapa muda. Kelapa muda yang masih utuh kulitnya dipanggang di bara api. Kemudian diberi madu dan susu dan disajikan secara utuh bersama kulitnya. Jadilah minuman kelapa muda hangat campur madu dan susu. Sangat pas sebagai penghangat badan dari dinginnya angin malam yang berhembus kencang.
Bahasa tarzan lebih sering terjadi saat interaksi kaum pribumi dengan para pendatang berkulit putih terang. Penduduk Karimunjawa memang belum terlalu fasih menggunakan bahasa internasional. Namun hal itu tiada menjadi penghalang kegiatan sosial lintas negara ini. Alunan musik teralun dari pemutar musik digital salah satu kumpulan. Kalau tidak dari Eropa ya Amerika. Mereka bernyanyi semarak. Membuat semua kumpulan yang berada di alun-alun tersentak. Kami bernyanyi bersama:
Let me take you far away. You'd like a holiday
Let me take you far away. You'd like a holiday
.......
Longing for the sun, you will come
To the island without name
Longing for the sun be welcome
On the island many miles away from home
Saat itu aku sudah membaur dengan rombongan dari Universitas Sebelas Maret. Untung mereka mengajakku untuk bergabung di rombongan backpacker mereka. Sehingga sekarang kami menjadi satu tim terdiri dari lima lelaki dan 2 perempuan. Tak ingin kalah dari orang luar negeri, kami juga ingin menyumbangkan sebuah lagu. Akhirnya pilihan jatuh ke campursari karena sebagian besar memang berasal dari Solo.
Yo konco ning nggisik gembiro. Alerap lerap banyune segoro
Angliyak numpak prau layar. Ing dino minggu keh pariwisoto
Galo praune wis nengah. Byak byuk byak banyu binelah
Ora jemu jemu karo mesem ngguyu
Ngilangake roso lungkrah lesu
Makan malam hari itu akan menjadi salah satu makan malam yang paling berkesan dalam hidupku. Pada saat itu juga aku berujar janji dalam hati bahwa suatu saat aku pasti kembali. Suatu saat nanti, saat sendiri bukan lagi opsi. Menikmati senja nan indah Karimunjawa. Surau yang menentramkan dengan alunan ayat suciNya. Makan malam di bawah benderang purnama penuh romansa.
Read more...