Kalau ditanya tentang cita-cita kebanyakan anak kecil akan menjawab ingin jadi presiden, dokter, pilot, insinyur, guru, polisi dll. Kesemuanya punya satu kesamaan yaitu jawaban dari pertanyaan "siapa". Siapa di sini akan merujuk pada sosok perorangan yang bisa digolongkan sebagai kata benda. Biasanya sosok perorangan ini merupakan sosok yang dihormati, dikagumi, dipandang tinggi baik karena materi atau jabatan oleh sosial.
Sayangnya penentuan cita-cita berdasarkan jawaban dari pertanyaan "siapa" ini hanya akan mempersempit potensi kita. Mungkin saat masih kecil hal itu belum terasa. Namun sering waktu berjalan pergumulan idealisme vs realistisisme sangat mungkin terjadi.
Misal saja ada seorang anak yang ingin menjadi dokter ketika masih kecil. Sekarang si anak telah tumbuh dewasa menjadi wanita yang jelita. Wanita ini telah menyelesaikan pendidikan modelling dan kini bekerja sebagai model. Dulu dia tidak bisa masuk ke pendidikan kedokteran karena biaya yang tidak mencukupi. Selain itu kemampuan akademis dia juga biasa saja sehingga susah cari beasiswa. Dia memang masih bercita-cita jadi dokter. Namun kini usianya sudah memasuki waktu untuk berkeluarga. Bisa saja dia menggunakan uang hasil profesi modelnya untuk mendaftar di lembaga pendidikan kedokteran yang passing grade-nya rendah. Bila kamu ada di posisi wanita ini apa yang akan kamu lakukan??
Idealisme memang sangat penting. Tanpa idealisme kita bagaikan tersesat di tengah labirin tanpa GPS. Sulit cari pegangan saat kebingungan. Permasalahannya kita sebagai manusia biasa tempat salah dan lupa (khilaf). Tidak selamanya idealisme yang kita pegang merupakan solusi terbaik bagi hidup kita. Harus ada pertimbangan berdasarkan realita terkini. Padahal selama ini idealis dan realistis secara umum dianggap sebagai kutub berlawanan. Untuk itu kita perlu berpikir di luar umum bahwa idealis dan realistis sangat mungkin untuk dipertemukan bahkan dijodohkan. Seperti kata pepatah arab: khoirul umuuri ausatuha. Sebaik-baik perkara adalah di tengahnya. Artinya idealisme kita jangan jadi idealisme buta dan tuli. Realita sekitar pada suatu waktu juga harus diperhatikan. Kelemahan fatal dalam mendukung idealisme cita-cita sebagai jawaban pertanyaan "siapa" adalah kurang fleksible dalam perubahan realita. Seperti wanita tadi dengan realita seperti itu akan lebih baik bila dia melepas idealisme cita-citanya sebagai dokter.
Berbeda jika konsep cita-cita yang ditanamkan semenjak kecil merupakan jawaban dari "Bagaimana".
Bagaimana kamu ingin menjalani hidup ini?
Jalani hidupmu secara menyenangkan tanpa terbebani status sebagai "seseorang". Tidak peduli jadi apa saja, mau jadi artis, penjual gorengan, dokter, tentara yang penting kamu merasa senang. Bahagia menjadi hidup itu tidak tergantung profesi menjadi "siapa". Presiden pun punya berbagai permasalahan politik dan kenegaraan. Pengamen walau hidupnya lebih longgar dia juga terbelit permasalahan finansial. Sungguh sayang hidup yang sebentar ini jika cita-citamu kamu gantungkan ke jadi "siapa".
Sekarang coba kita ubah konsep cita-cita dari "siapa" menjadi "bagaimana". Misal wanita jelita yang yang jadi model tadi. Kita ubah konsep cita-citanya dari "dokter" menjadi "ingin membantu pengobatan orang sakit yang tidak mampu". Secara realistis wanita tadi dalam posisi yang kurang mendukung untuk meneruskan cita-cita sebagai dokter. Namun bila idealisme cita-citanya adalah "ingin membantu pengobatan orang sakit yang tidak mampu" maka realita kondisinya saat ini tidak akan mengganggu idealismenya. Sebagai model pun dia tetap bisa berkarya dalam mewujudkan cita-citanya. Bisa saja dia menggagas suatu acara amal lelang busana mode dari suatu rumah mode kenalannya. Hasil lelang itu kemudian digunakan untuk dana pengobatan gratis masyarakat tidak mampu. Kemudian dia bisa membentuk suatu organisasi yang anggotanya model dan desainer untuk membuat klinik khusus orang yang tidak mampu. Organisasi ini mengumpulkan donasi dari sponsor dan membentuk duta model dunia untuk mengkampanyekan pentingnya berbagi kepada sesama. Duta model itu dipilih dalam suatu kontes mirip Miss Universe gitu, yang anggotanya model-model perwakilan tiap negara. Kontesnya ya seputar mode andalan dari para desainer tiap negara. Melalui berbagai kegiatan itu dana operasi klinik disokong. Nah dengan begitu cita-cita wanita jelita tadi bisa tercapai. Bahkan dia bisa membuat inisiatif kegiatan yang mengembangkan dunia mode. Itulah kekuatan "bagaimana".
Oh ya satu yang hampir kelupaan. Suatu rumus bagaimana untuk menjalani hidup dengan bahagia. Bila kita mau merenung sebenarnya bahagia itu lebih mudah didapat dengan membahagiakan orang lain. Istilah lainnya adalah khoirun naasi anfa'uhum linnaasi. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Coba bayangkan bahagia mana bila kamu makan bakso 5 mangkok sendirian atau berbagi ke pengemis yang mungkin jarang makan bakso. Melihat wajah gembira mereka, menerima ucapan terima kasih mereka, menerima doa baik dari mereka. Sungguh kebahagiaan memberi 5 mangkok bakso dari penjual keliling ke pengemis itu lebih nikmat dibanding makan bermangkok bakso di restoran mahal sekalipun.